Jumat, 20 Juni 2014

Jangka

Dan apa yang telah kita perbuat pada diri kita sendiri?

Aku telah mendengar kabar. Yuri Gagarin mengorbit menembus atmosfer. Pun Neil Armstrong sudah menjejak di bulan. Wolfgang Mozart menggubah Magic Flute sementara Beethoven mewartakan Fur Elise dalam matematika nada. Lalu beruntun Ismail Marzuki, Beatles, Koes Ploes, Ebiet G. Ade hingga Iwan Fals menyusun nada-nada abadi penghibur luka.

Aku pun pernah membaca. Hemmingway, Steinbeck, maupun Pramoedya mengabadikan kata-kata. Sejarah kemanusiaan yang hingga hari ini InshaAllah kita masih menjumpainya di gerai-gerai buku. Mengenang cerita mereka dan mengambil sari patinya demi hidup yang lebih memanusiakan sesama.

Bila itu belum cukup menggerakkan minatmu terhadap apa yang telah kita lakukan, mari tengok keagungan piramida Giza, Ka'bah, Borobudur, Hageia Sophia, Louvre, sampai Keraton Kasultanan Jogja. 

Peradaban telah menunjukkan bagaimana manusia yang memilih menjadi manusia jangka panjang telah mengabadikan hal-hal yang tetap kita perbincangkan hingga kini. Bahkan setelah penulis, musisi, atau arsitek itu telah menyatu dengan bumi.

Dan apa yang telah kita lakukan pada diri kita sendiri?

Hari ini aku bersedih karena aku tak mampu mengumpulkan bekal atau pemikiran yang akan bwrmanfaat bagi orang lain. Bahkan sekedar penghiburan, bukan filsafat atau ilmu alam.

Hari ini, dalam tangis diamku aku tertipu karena lebih tertarik berita pencalonan kepala negara atau infotainment, ketimbang menyambangi Herman Hesse atau Nh. Dini. Lebih giat mencari penghargaan, alih-alih menulis puisi tentang Ramadhan. 

Oh Tuhan, aku telah menjerumuskan diriku dalam kubangan manusia jangka pendek.

Yang hanya senang sesaat. Yang bahagianya semu. Yang sudah pasti redup, karena hidupnya hanya menunggu usia dan tak menghitung 1000 bintang di langit Ranu Kumbolo.

Kamu? Semoga tidak begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar