Sabtu, 17 Mei 2014

Collage of England

Aku tidak ingat ini jam berapa. Kereta yang kutumpangi melaju kencang menghadirkan kelebat demi kelebat potongan tanah hijau dalam bingkai jendela.

Dalan hening aku begidik membayangkan di kananku adalah lebatnya hutan Sherwood, Nothingham. Dari semak-semaknya yang menyimpan misteri, si Robin Hood mengamati kereta kami seolah ular besi ini mengangkut pundi-pundi emas untuk bisa dijarahnya.

Kereta uap ini berderak dan bergerak melingkar mengitari perbukitan. Menurut perhitunganku, 30 menit setelah ini aku akan tiba di stasiun King's Cross. Bertemu Hermione, lalu mendengarkan kebawelan jeniusnya. Ronald selalu kikuk kalau Miss Granger mulai begitu. Tapi yah, karena itulah ia mencintainya.

King's Cross dijubeli lalu lalang manusia bermantel. Hujan baru saja reda. Hermione sibuk menekuri buku tebalnya. Agak merengut ketika menjelaskan ia belum memahami mantra yang baru diajarkan Prof. McGonnagal. Sepintas aku melihat di ujung ruang tunggu, Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie serius berdiskusi.

Beberapa menit kemudian, Sherlock dan Poirot bergabung dengan mereka. Akhir-akhir ini London agak kejam. Kuharap detective itu bertindak cepat sebelum muncul iblis seperti Jack the Ripper.

Aku tak ikut menerobos 9 3/4. Sebagai muggle, hidungku bisa rata alih-alih tembus ke Hogwarts. Kutinggalkan bersama Hermione novel Charles Dickens dan vinyl Sgt. Pepper's Lonely Heart Club Band untuk menghiburnya di sela pelajaran sihir.

Matahari pelan-pelan muncul. Kilap cat merah bus dan box telepon nampak mencolok. Big Ben menunjukkan pukul 10. Masih 6 jam lagi sebelum Semifinal FA Cup.

Tapi di beberapa ruas jalan, para Gooners seolah sudah merasa memenangi kejuaraan tertua itu. Perkiraanku, Manchester United bisa mencuri point, biarpun Dennis Bergkamp bermain apik.

Udara lembab dan berkabut naik ke level gerah. Aku membeli limun di cafe yang lamat-lamat memutar distorsi gitar Matthew Bellamy. Setelah ini, aku harus bertemu teman bibiku, Mr. Bean. Dia agak ..... nerd kalau kamu mau tahu.

Ada pesanan Mr. Bean untuk bibiku yang harus kubawa. Dia seorang penjahit dan betapa aku tak nampak tekejut saat pria yang mirip Rowan Atkinson itu secara canggung menyerahkan boneka Teddy Bearnya yang jahitannya nampak ..... kacau.

Sebenarnya, Mr. Bean tak seaneh kelihatannya. Dia sangat baik bahkan memperbolehkanku menggunakan Mini Coopernya keliling London.

Dan diantara kekonyolanku mengendarai mobil mungil, warna langit biru yang cerah di atas Trafalgar, dan zebra cross bersejarah Abbey Road, aku menemukanmu.

Kamu yang bergaun merah jambu. Yang berambut panjang tergerai. Yang tersungkur di pojokan salah satu katedral di ujung jalan karena menghindari kekacauan menyetirku.

Aspal hitam dan becek itu mengotori tumpukan buku yang kamu bawa dari Oxford. Kamu terlihat cerdas dan anggun bahkan saat menamparku. Menceramahi keteledoranku dengan aksen Inggris berbau Asia-mu.

Aku terdiam. Otakku terasa seperti kapas. Aku tak ingat hari apa ini. Siapa nama Ratu Inggris. Bagaimana wajah cemberut bibi kalau aku telat mengantar pesanan Mr. Bean. Cuma kamu yang kini berputar dalam ruang dan waktuku.

"Hey, you fool. Are you listening to me?"

"Sorry, my bad. Are you okay?"

Kamu merapikan gaunmu lalu menyusun buku-bukumu kembali ke dekapan. Tanpa berbicara lagi, kamu pergi meninggalkan aku sendiri. London tak pernah serumit dan sesepi ini. Semua tiba-tiba berputar tak karuan. Seperti waktu berjalan dalam pusaran.

Sebuah suara menyadarkanku. Petugas pemeriksa tiket kereta berkeliling. Di jendela terlihat persawahan Kutoharjo terlentang.

"Tiketmu, mana?"

"Ah, ya ini," kataku seraya menarik selembar tiket dari saku.

"Tidurmu nyenyak, ya? Mahasiswa?"

Aku mengangguk. "Jurusan Hubungan Internasional."

Dia memeriksa tiketku lalu mengembalikannya.

"Semoga sukses. Sebaiknya bisa ke Inggris."

Aku melongo memperhatikan punggung petugas itu berjalan menjauh. Tentu aku harus bisa ke Inggris, batinku. Sudah berbulan-bulan mimpi yang sama menghantuiku. Semua pernah ada dalam dunia nyata. Hanya kamu yang tidak. Hanya kamu yang masih fiksi.

Sabtu, 10 Mei 2014

Kita Hari Ini: Generasi Gagal Paham

Little child, dry your crying eyes
How can I explain the fears you feel inside?
Cause you were born into this evil world
Where man is killing man;
and no one knows just Why?
- White Lion; 1987


Agaknya Mike Tramp ketika menulis lirik menyayat itu menyadari bahwa ia dan generasinya kala itu melihat realitas dunia di sekitar mereka tak ubahnya lahan yang disemai dengan benih ketakutan. Benih-benih itu lalu tumbuh subur dengan siraman peluru, diairi oleh darah dan air mata, sebelum akhirnya mengakar dan menjadi pohon yang berbuah pahit.

Generasi kita, tidak bisa kita sangkal, adalah buah sejarah dari generasi pendahulu. Kita diwarisi gen dan kromosom yang bersifat merusak. Walau memang masih ada gen yang bersih dan menolak bersenyawa dengan penebar perkara merusak itu, tetap saja hari ini - detik ini - kita melihat keberadaan degradasi akal sehat, nurani dan rasa toleransi itu masih menancap kuat.

Bahkan dengan kapasitas dan kapabilitas mencari atau menerima informasi, kita serasa mual dijejali berita terorisme, kejahatan seksual, politik kotor, KKN, dan entah macam apa lagi yang tentu takkan sebanding dengan berita baik yang di Retweet oleh akun sosial media semacam Good News From Indonesia.

Baru-baru ini, di sebuah sekolah SD di Indonesia, seorang siswa melakukan kekerasan seksual pada teman sekelasnya. Lalu sebelumnya, seorang siswa SMP, punya kenekatan untuk menghabisi teman satu sekolahnya dalam baku hantam.

Ada yang salah dengan masyarakat kita. Ada yang menyimpang dengan dunia pendidikan kita.

Kasus Jakarta International School (JIS) hanyalah pintu pembuka berbagai peristiwa serupa di lembaga belajar-mengajar. Diluar sisi perizinan keberadaan sekolah itu, kasus guru bertindak amoral adalah fakta menyakitkan.

Mungkin juga ada yang skeptis. Merasakannya sebagai euforia atau media yang lebay. Dan mereka menyangkal dengan mengganti channel televisi ke sinetron atau acara hiburan lain.

Bagi kita yang mengikuti kasus JIS di televisi dan berani untuk tidak menyangkal rendahnya moral di negeri ini, pasti telah tertanam dalam hatinya benih ketakutan. 

Bagaimana nanti kalau ditinggal sendirian? 
Apa sekolah itu aman? 
Home schooling aja, deh. 
Apa kami harus berhenti berkarir agar fokus ke perkembangan anak?

Begitu mungkin segelintir rasa was-was menengok ternyata predator anak tidak hanya ditemukan di sekolah berfasilitas eksklusif, tapi juga di sekolah atau lingkungan sosial yang jauh dari pewartaan media.

*

Padahal apa sih faktor pemicunya?

Silakan berandai-andai. Akan ada beragam imajinasi yang menggelantung di benak kita. Agaknya, setiap pilihan yang pernah dianggap ideal untuk melawan degradasi moral, justru malah menjadi embel-embel yang melekat pada pelaku kejahatan.

Agama, misalnya. 

Kita menyandarkan hidup pada ajaran Tuhan yang kita anut masing-masing. Agama mengajarkan kebaikan, itu benar. Lho, kok terus ada ustadz atau pastur yang menyimpang?

Tentu kita tidak bisa menjustifikasi kejahatan berembel-embel agama karena ajaran agama tidak mampu mengontrol hasrat hewani. No. Not like that. Perilaku amoral terkait dengan pemahaman dan "kelihaian" menggunakan ajaran suci untuk pencapaian pribadi.

Masyarakat yang awam dan dalam pencarian nilai-nilai spiritualitas rentan menerima "kelihaian" ini. Hasilnya akan beragam. Dari tindakan asusila hingga perilaku terorisme.

Munculnya simpatisan Boko Haram di Nigeria adalah bentuk gagalnya pemahaman terhadap Islam dan kemanusiaan. Bahkan sesama muslim mereka bantai untuk menggaungkan pemerintahan Nigeria berdasarkan Syariah.

Konyol, bukan?

Memperjuangkan nilai syariah melalui hal semacam itu apakah dihalalkan? Boko Haram setidaknya telah menculik 200 siswi dan membombardir Nigeria Utara. Siswi itu akan dijadikan budak selama keinginan mereka belum dipenuhi. Kini Amerika, China hingga Inggris harus ikut campur. Kita tak pernah tahu, apakah murni untuk membebaskan 200 sandera atau bargain politic minyak di sana.

*

Hari ini, entah sudah berapa bayi lahir di dunia. Mereka menangis. Ya, menangis karena di rahim sana Malaikat telah membisiki mereka bahwa kelak akan mewarisi sejarah carut-marut krisis nurani dan moral dari zaman sebelumnya.

Mungkin itu adalah bayi Anda. Mungkin itu adalah bayi bangsawan Inggris. Bisa jadi itu bayi-bayi yang lahir di tengah panasnya Palestina-Israel.

Kita tak bisa mengelak bahwa kita telah mempersiapkan masa depan penuh tantangan bagi anak-cucu. Kita, generasi gagal paham ini, telah menyediakan ribuan soal untuk dicari solusinya oleh penerus kita: Perang, global warming, pembalakan liar hutan, terorisme, kemiskinan, dan rasa takut lainnya.

Kita tak bisa lama terlena. Jangan lagi mengkafirkan (menutup) hati. Ingat pesan syair Kyai Kanjeng: 

Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng
Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng

Di Tengah Dekap Cemara

Suatu hari nanti,
aku akan berdiam dalam sepi
tanpa harus dimengerti.
Sementara mereka riuh mencari
aku tertawa tak peduli.

Bunga krisan hadir dan mati,
tapi kau masih gatal merias diri
bermain sandiwara di pentas sunyi.
Aku takkan campuri lagi
karena duniaku telah kekal menanti.

Suatu hari nanti,
aku akan berdiam dalam sepi
tanpa harus kau temani.
Barangkali kau ingin mengabari
aku kan tertidur tak sadari.

Tembang lawas dan puisi Willi
mengingatkanku akan duniawi
segala dusta, kepura-puraan, merajai
tapi aku tak takut atau mundur lagi.

Karena suatu hari nanti,
aku akan berdiam dalam sepi
tanpa karunia Ilahi terpolusi.
Mungkin kau akan merengek berjanji
tapi sekociku tak muat lagi.

Kamis, 01 Mei 2014

The Simple Things: Hide and Secrets

Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
(Keane)


Pernah mendengar lagu itu? Jika kamu menonton film adaptasi yang diperankan oleh Keanu Reeves dan Sandra Bullock, The Lake House, maka lagu Keane itu adalah soundtrack film tersebut. Tapi, kita kali ini kita tak sedang membicarakan film perjalanan waktu itu.

Hal-hal sederhana, seperti yang band Irlandia itu tulis, mungkin tidak semua dari kita berani mengingatnya. Bukan begitu, kan? Ada masa, saat usia melaju perlahan dan berlari semakin kencang, kita meninggalkan hal-hal sederhana dalam hidup untuk sesuatu yang lebih ... katakanlah “rumit.”

Kita tidak lagi menghabiskan waktu mengejar layang-layang, alih-alih berkelana membangun kesibukan. Pekerjaan, cinta, perubahan kepribadian, uang, tekhnologi, dan semua hal yang membuat hidup begitu hingar-bingar. 

Ada masa, ketika saya membenci diri saya sendiri. 

Saya kehilangan hal-hal yang dulu pernah begitu kurang saya sadari ternyata begitu memikat. Kesederhanaan dan kerahasiaan yang begitu unik dan tak perlu orang lain tahu. 

Ya, semua orang tidak harus tahu siapa kita, kan?

Dan semua orang tidak harus merasa lebih mengenal kita lebih dari diri kita sendiri. 

Hari-hari terakhir, saya menjadi mudah “terbuka” dengan lingkungan sosial. Apa penyebabnya? Aktualisasi. Pamer. God damned Internet. Ingin lebih banyak dilihat mata dan didengar telinga. Dan, saya kangen dengan apa yang dinamakan “bersembunyi”.

Saya tidak bisa mengerti bagaimana mungkin orang berduyun-duyun mengantri untuk menjadi publik figur: bintang film, politisi, pendakwah agama beratribut artis, jika mereka kehilangan ruang dan waktu untuk bersembunyi?

Itupun, jika awalnya mereka terbius dan menikmati ketenaran, ketika tiba waktu mereka terhimpit oleh padatnya jadwal, kekecewaan, atau mungkin kasus hukum, mereka akan memuja kerahasiaan dan “Gua Batman” untuk melarikan diri dari dunia. 

Oh ya, mereka akan membayar berapa pun untuk persembunyian dan kerahasiaan. 

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu juga kehilangan hal-hal sederhana yang dulu begitu kamu suka?

Ingat-ingatlah kembali hal itu, jika bisa rebut kembali. Jika tidak ingat, tak apa. Tapi dia akan tetap menunggumu membangunkannya.