Sebentar lagi Pemilu Legislatif. 9 April 2014. Masih sama dengan
tahun-tahun kemarin, sepertinya hari esok, saya tidak lagi menggunakan
hak pilih saya. Bagaimana dengan kamu? Semoga tidak sama dengan saya.
Hehehue.
Kenapa saya tidak memilih? Ah, itu sepertinya
bukan masalah penting. Toh ya, harapan inti dari Pemilu kan agar negara
ini sejahtera. Di tangan orang yang tepat. Di otak dan nurani pemimpin
yang mengerti kebutuhan seluruh elemen masyarakat.
Kadang,
saya merasa bersalah tidak menggunakan hak pilih ini. Menjadi golongan
putih itu seperti tidak tahu mau dikemanakan arah kemudi pemerintahan.
Ndak punya pandangan politis. Terombang-ambing ikut arus. Dan entah apa
lagi cermin negatif lainnya.
Tapi yah itulah. Saya
enggan. Saya merasa belum ada calon yang bisa saya pahami.
Program-program yang muluk dan terlalu melangit. Janji-janji. Kampanye
yang glamour dan penuh hura-hura. Pencitraan yang kadang saya geli
sendiri melihatnya. Kok sampai segitunya ya? Kok cuma hari-hari begini
saja ya mereka seperti itu?
Kalau kamu melihat tayangan televisi atau media apalah, pasti akan merasa geli juga. Ngaku deh. Heheheu.
*
Tapi
apapun pilihan kamu nanti – kalau kamu ikut pemilu – yah, minimal
berpikirlah lebih berani dan logis. Berani menanggung beban konstitusi
dan sejarah kalau pemimpinmu itu nanti tidak sesuai dengan keinginan
kamu. Logis, tidak berdasarkan gejala kagum sesaat, tapi hitung-cermati
apakah visi dan misinya adalah cerminan kebutuhan mendasar kita.
Apasih kebutuhan mendasarnya?
Sandang-pangan-papan
yang cukup? No. Itu ndak cukup lagi. Zaman sudah semakin tua. Kalau
sekedar cukup makan, cukup pakaian, cukup tempat tinggal rasanya itu
masih bisa diusahakan. Menurut saya, kebutuhan perbaikan moral dan cara
pandang kitalah yang harus dibenahi lebih dahulu.
Kamu
kalau punya moral baik, tentu akan cukup sandang tanpa harus mencuri,
kan? Cukup makan 3 kali sehari tanpa korupsi dana Bulog. Cukup papan,
tanpa harus diam-diam mempersyaratkannya secara ilegal dari balik
kontrak-kontrak kerjasama
Kalau moralitas sudah
dibenahi, manusia akan bekerja dengan hati yang baik. Kepekaan sosialnya
tentu lebih terasah. Ndak usahlah muluk-muluk sekolah gratis, kesehatan
gratis. Kalau semua-semua gratis, berarti kita ini benar-benar negeri
miskin ya? Heuheuheu.
Saya ndak mengompori buat golput.
Bagaimanapun, hak suara kamu itu penting. Kalau semua orang Golput,
maka pemenang pemilu bisa jadi adalah partai dengan integritas yang kita
jauhi itu. Kabarnya, fasisme itu terbentuk karena masyarakat di sana
dulu mayoritas Golput. Heuheu...
Yang penting, jangan
maunya ikut Pemilu, tapi kalah-menang tetap saja ngedumel. Lho kok gini?
Lho kok gitu? Lho kok diapusi? Ayo demo. Bakar ban dan bikin macet.
Pecahin kaca ruko. STOP! Berhenti jadi masyarakat tukang mengeluh dan
provokator.
Kamu ndak membuatnya jadi lebih baik. Kamu jadikan Pemilu itu sekedar akronim Pembuat Pilu.