Senin, 07 April 2014

PEMILU = Pembuat Pilu

Sebentar lagi Pemilu Legislatif. 9 April 2014. Masih sama dengan tahun-tahun kemarin, sepertinya hari esok, saya tidak lagi menggunakan hak pilih saya. Bagaimana dengan kamu? Semoga tidak sama dengan saya. Hehehue.

Kenapa saya tidak memilih? Ah, itu sepertinya bukan masalah penting. Toh ya, harapan inti dari Pemilu kan agar negara ini sejahtera. Di tangan orang yang tepat. Di otak dan nurani pemimpin yang mengerti kebutuhan seluruh elemen masyarakat.

Kadang, saya merasa bersalah tidak menggunakan hak pilih ini. Menjadi golongan putih itu seperti tidak tahu mau dikemanakan arah kemudi pemerintahan. Ndak punya pandangan politis. Terombang-ambing ikut arus. Dan entah apa lagi cermin negatif lainnya.

Tapi yah itulah. Saya enggan. Saya merasa belum ada calon yang bisa saya pahami. Program-program yang muluk dan terlalu melangit. Janji-janji. Kampanye yang glamour dan penuh hura-hura. Pencitraan yang kadang saya geli sendiri melihatnya. Kok sampai segitunya ya? Kok cuma hari-hari begini saja ya mereka seperti itu?

Kalau kamu melihat tayangan televisi atau media apalah, pasti akan merasa geli juga. Ngaku deh. Heheheu.

*

Tapi apapun pilihan kamu nanti – kalau kamu ikut pemilu – yah, minimal berpikirlah lebih berani dan logis. Berani menanggung beban konstitusi dan sejarah kalau pemimpinmu itu nanti tidak sesuai dengan keinginan kamu. Logis, tidak berdasarkan gejala kagum sesaat, tapi hitung-cermati apakah visi dan misinya adalah cerminan kebutuhan mendasar kita.

Apasih kebutuhan mendasarnya?

Sandang-pangan-papan yang cukup? No. Itu ndak cukup lagi. Zaman sudah semakin tua. Kalau sekedar cukup makan, cukup pakaian, cukup tempat tinggal rasanya itu masih bisa diusahakan. Menurut saya, kebutuhan perbaikan moral dan cara pandang kitalah yang harus dibenahi lebih dahulu.

Kamu kalau punya moral baik, tentu akan cukup sandang tanpa harus mencuri, kan? Cukup makan 3 kali sehari tanpa korupsi dana Bulog. Cukup papan, tanpa harus diam-diam mempersyaratkannya secara ilegal dari balik kontrak-kontrak kerjasama

Kalau moralitas sudah dibenahi, manusia akan bekerja dengan hati yang baik. Kepekaan sosialnya tentu lebih terasah. Ndak usahlah muluk-muluk sekolah gratis, kesehatan gratis. Kalau semua-semua gratis, berarti kita ini benar-benar negeri miskin ya? Heuheuheu.

Saya ndak mengompori buat golput. Bagaimanapun, hak suara kamu itu penting. Kalau semua orang Golput, maka pemenang pemilu bisa jadi adalah partai dengan integritas yang kita jauhi itu. Kabarnya, fasisme itu terbentuk karena masyarakat di sana dulu mayoritas Golput. Heuheu...

Yang penting, jangan maunya ikut Pemilu, tapi kalah-menang tetap saja ngedumel. Lho kok gini? Lho kok gitu? Lho kok diapusi? Ayo demo. Bakar ban dan bikin macet. Pecahin kaca ruko. STOP! Berhenti jadi masyarakat tukang mengeluh dan provokator.

Kamu ndak membuatnya jadi lebih baik. Kamu jadikan Pemilu itu sekedar akronim Pembuat Pilu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar