Rabu, 30 November 2011

Catatan di Penghujung Jalan


 
Sekarang sedang musim kemarau. Semilir angin musimnya yang gerah seolah tak mampu disamarkan oleh sejuk AC di ruangan kecilku. Walaupun jendela tak tembus cahaya yang setiap detik silih berganti menyihir pemandangan di samping kananku menjadi warna hitam keabuan, tapi aku tahu benar warna daun gugur di sepanjang jalan ini coklat kering. Kontras dengan semburat biru atap langit Kota ini.

Kami berempat duduk di dalam mobil. Ketiga lelaki lain itu seolah diperintahkan untuk menolak anugerah Tuhan yang Maha Agung dengan sama sekali tak menggunakan mulut mereka untuk sekedar menikmati kesenian mengobrol atau saling jahil mengumpat. Sesekali mereka menerima telepon, berbicara sepotong, lalu klik diam.

Aku tak punya banyak pilihan. Ah ... aku memang tak punya pilihan. Ketenangan ini lebih mengerikan dari apa yang pernah kupikirkan. Sungguh, aku tak bisa membayangkan hal semacam itu akan diterima di Le Barca.



Untuk kau ketahui, bartender tempat itu akan menyirammu dengan seember air kencing kalau kau masuk lalu tak ambil bagian sekedar untuk mengoceh omong kosong tentang Presiden Amerika, softball, atau tetek bengek lainnya.

Aku tertawa geli. Seorang berjas hitam di sampingku melirik acuh, lalu kembali pada posisi diam tegaknya.

“Kau tahu, seorang pelajar Taipei pernah salah, dikiranya Le Barca itu bar biasa biasa ... haha, Brondy Jr itu lalu menyuguhinya air seni! Air seni! Oh ... what the fuck Brondy ... haha ..“

Aku coba berkelakar dengan menyikut lengan lelaki itu. Ia tak bergeming.

”Maafkan, ... seharusnya aku tahu ... kalian bahkan tak bisa bicara,” tawaku meledak lagi.

Ia masih tak berekspresi. Aku jenuh. Perjalanan ini, orang orang ini, pemandangan abu abu ini.

”Bisakah kalian turunkan jendelanya? Sebentar saja. Kalian tahu aku tak mungkin berbuat apa apa.”

”Kau tahu itu tidak diizinkan, Pak. Kau butuh bacaan?”

”Aku lebih suka membaca gerak bibir, kalau kau mau tahu. Benar tak kau izinkan?”

”Pak.”

”Ya, ya sudahlah.”

Kami melintasi jalan menikung. Pepohonan di sampingku berubah menjadi kelokan kanal sungai. Pemandangan itu mengingatkanku akan sungai di kampung halaman. Desa kecil, suara burung yang setiap pagi mencicit, dan aliran sungai bening yang kecipaknya adalah harmonisasi alam yang sempurna.

”Bukannya ibu sudah peringatkan, jangan kau main dengan Salmin! Sekarang tahu rasa, bajumu dihanyutkan di kali.”

”Tapi aku memang yang mulai duluan. Salmin dan aku saling bertaruh, siapa yang bisa menyeberangi sungai bolak balik dan sampai duluan dialah yang paling lelaki.”

Ibu menjewerku. Panas dan sakit sekali telingaku kala itu. Tapi, aku tahu ibu tak pernah marah. Malam itu ia malah mengajakku naik carrousel dan membelikan sepotong kemeja baru.

Sungai itu membuatku rindu rumah dan segala kesederhanannya. Pendidikan, relasi, dan monkey business  telah membuatku memiliki banyak tempat singgah. Tapi yang namanya rumah itu barulah bisa disebut rumah kalau apa yang ada di dalamnya mengizinkanmu untuk memasukinya. Bukan dengan membawa sendiri kuncinya. Itu lebih mirip pekuburan.

*

Musim kemarau ini pun akhirnya menjalar ke dalam sedan. Kini kami berada di tengah selimut polusi. Lelaki berjas hijam di sampingku mengambil sebotol air mineral lalu menyodorkannya padaku. Aku menolak. Memang haus, tapi aku tidak ingin melepaskan sedikit pun dahaga dan gerah musim kemarau ini.

Traffic light menahan laju roda kami. Di seberang jendela sana, sebuah billboard raksasa memasang pose seorang model tengah menenggak minuman ringan kalengan. Remaja. Cantik. Luar biasa cantik dan menggaraihkan bahkan.

Aku jadi teringat. Wanita bermata cerah itu. Zulaikha.

Klise, kami bertemu di tahun kedua universitas. Zulaikha memilih psikologi sementara aku ekonomi. Ia pandai mengolaborasi empati, numerologi, logika, dan emosi namun lemah dalam matematika, sementara aku cukup lihai dengan peluang tapi menyerah pada tata boga.

Itu cinta. Dan kami teracuni olehnya.

Aku beri tahu, bahwa suatu filosofi sederhana tentang cinta hanyalah bualan orang yang tak pernah jatuh cinta.

Berulang kali aku patrikan bahwa angan angan paling membumi seusai lulus universitas adalah bersama Zulaikha. Hidup terasing entah di belantara mana, tanpa telepon, tanpa internet, bahkan kalau mungkin tanpa busana sehingga setiap hari kami bisa saling menjadi pakaian bagi satu sama lain.

Kenyataan yang kuterima kemudian adalah cinta kami yang hasil perkawinan Freud dan Keynes itu berformula semakin rumit. Serumit ajaran Tuhan kami yang berseberangan.

Aku marah saat Zulaikha dengan sorot teduhnya mengujiku akan keikhlasan ber-Tuhan. Bagaimana mungkin? Sementara kami sudah terseret arus yang menenggelamkan Tuhan di dasarnya. Dua minggu setelah itu, dia mengenalkanku kepada Shalam. Kembali dadaku bergemuruh, namun kini whiskey, penghiburan usang John Lennon, dan mariyuana yang kelak menjodohkanku dengan seorang dari Cartagena mulai bisa meredakannya.

*

“Pak, Anda mau sholat dulu?,” kata lelaki di sampingku.

”Ah – oh, tidak. Kita terus saja,” kataku. ”Kita – maksudku – kalian tentu sesuai schedule harus bisa mengantarku tepat waktu.”

”Benar, Anda tidak mau?”

”Bukan, bukan begitu. Aku – ah maafkan aku, hanya saja – biarlah aku berdoa dari sini saja. Ah – eh – ya ... di sini saja.”

”Aku tidak akan demikian kalau di posisi Anda, Pak. Tidak banyak yang bisa dilakukan, selain mengadu kepada-Nya. Dan..... tentu saja kabur jika kami sampai lengah mengawal Anda.”

Aku tak tahu harus tertawa atau menangis dengan kalimat lelaki itu. Semua serba bias.

”Aku, – kita – terus saja, Pak. Aku dari sini saja,” kataku nyaris tanpa suara.

”Ya. Kalau itu kemauan Anda,” katanya datar. ”Tuhan Maha Pengasih dan ... percayalah, Dia memang seharusnya bukan akuntan yang pencemburu, Pak.”

Aku tertegun. Bertahun tahun aku dijejali ilustrasi Malaikat Maut yang berwajah sangar, menggenggam cambuk, dan gemar menyeret, kini pada kenyataan yang kusebut Malaikat Maut itu berbadan tegap, tampan, bersetelan hitam licin, bahkan wangi parfum Perancis.

Dua menit yang lalu kubah Masjid Agung itu masih tercermin di jendela, kini siluetnya pun tidak nampak. Gemetar, tanganku merogoh saku kemeja. Ada tasbih kecil pemberian istriku. Ada rasa malu, takut, juga bingung ketika menggumamkan asma agung Tuhan di setiap petikan jariku.

Aku menangis bisu. Sesak. Adzan pun pecah. Dedaunan coklat musim kemarau, sungai perak, kanal kanal elok, rumah, ibu, Zulaikha, masjid agung, dan gambar gambar hitam keabu abuan di sepanjang jalan ini sekelebat demi sekelebat terus berlarian dalam benakku.

Di ujung jalan sana, esok mungkin aku akan menerima susshi terakhir dalam hidupku dan untuk selanjutnya tak akan pernah bisa kuceritakan lagi apa yang nanti terlukis di hadapan mataku.



Rabu, 23 November 2011

Masa Pudar



SUNANDAR memarkir rombong dagangannya ke depan teras kontrakan yang kecil. Peluh lelaki itu seperti air terjun yang mengalir deras dari ujung dahi hingga pucuk dagu lancipnya. Ia bersandar sejenak di batang pohon belimbing sambil mengibas-ngibaskan topi lusuh di sekitar wajah lalu mengelap peluhnya dengan handuk yang tak kalah kecut dari keringatnya.

Pintu kontrakan tertutup rapat. Begitu pun jendela di kanan-kiri tembok. Selambu hijau kusut menutup seluruh kaca dan menghalangi cahaya yang akan masuk ruangan. Dia tahu istrinya tengah di rumah Bu RT. Ada hajatan khitanan anak perempuan gemuk paruh baya itu. Dan seperti biasa, kemahiran Marni sebagai juru masak tingkat RT dibutuhkan sebagai pakar peracik bumbu-bumbu soto jawa ataupun pengolah rempah-rempah penyedap opor.

Matahari belum berada di tahta tengah hari, tapi perutnya mulai keroncongan. Tadi pagi dia hanya memuasi lambungnya dengan mie kuah dan secangkir kopi. Marni tidak memasak karena akan membawa makanan dari hajatan.

Tapi lapar memang tak bisa ditahan. Ia ke dapur dan mencari lemari makanan. Hasratnya berharap masih ada sepotong singkong rebus sisa semalam yang bisa untuk mengganjal perutnya.

“Berengsek! Lemari begini besar cuma buat tempat piring.”

Ia banting pintu lemari keras-keras lalu pergi rebahan ke kamar. Setengah terjaga setengah terlelap, ia memandang langit-langit. Dan entah dari mana ujung-pangkalnya, kenangan silam tiba-tiba menyelinap ke dalam sel-sel otaknya. Seiring katup matanya turun, kenangan itu menyeruak semakin jelas.

Desa Gambir, tanah kelahiran sekaligus pembentuk kepribadiaan seorang Sunandar, ditasbihkan nama Sukarmanto sebagai pedagang telur dan daging ayam terkenal hingga sudut tersempit Pasar Kepanjen. Pedagang dermawan dan hidup dalam kesejahteraan cukup itu menjadi bapak ketika pecah tangis Sunandar mendebarkan jantungnya tiga puluh lima tahun lalu. Segera saja, ia yang mendambakan pewaris laki-laki itu memanjakan jagoan kecilnya dengan bermacam gelimang nikmat.

Bertambah tinggi bukan berarti bertambah dewasa bagi Sunandar. Masa mudanya dihabiskan hanya untuk bersenang-senang. Setelah pulang hanya untuk mandi atau makan, ia kembali ngelayap. Tak pernah ada yang marah meski nilai-nilai akademis selalu anjlok. Kehadiran buah hati yang dirindukan di biduk keluarga telah melenakan mereka.

Badai baru menggelora bahtera saat si ayah mendadak harus menghadap Khalik. Bersamaan dengan berkibarnya bendera kuning dan iringan keranda jenazah berselimutkan kain hijau dan ronce-ronce bunga beraroma maut menuju liang lahat, tampuk kepemimpinan mulai dipegang sang putra mahkota. Kala itu ia masuk dua puluh tiga. Dunia begitu kejam mengazab kemalasan yang kemudian menjerumuskan dia serta Marni yang baru tiga tahun dia kawini menuju kenyataan yang asam.

Gemeletar adzan menggelontor lamunan Sunandar. Bersamaan dengan itu, Marni turut menggedor-gedor pintu dan menemukan mata sayu Sunandar menyapa wajah manisnya.

“Sudah pulang?” tanya Sunandar sambil menutup pintu. “Bawa apa? Makanan?”

“Ya.”

Marni ketika kembali ke ruang tamu dengan piring dan sendok.

“Tadi pagi kan aku tidak masak. Ini aku bawa opor dan sate ayam kesukaanmu.”

Sunandar memandang hampa saat Marni menuangkan kuah opor ke mangkuk. Teringat dulu ibunya sering memasak hidangan serupa dan ia tak harus menunggu ada hajatan untuk menyantapnya.

“Kok ngelamun, Mas? Cepat dimakan. Habis ini aku mau kembali ke hajatan.”

*

BINTANG-BINTANG gemerlapan di atas langit kontrakan. Kelap-kelip anggun itu masih belum mampu menyadarkan Sunandar yang semakin terendam dalam kenangan. Ia tertawa sendiri mengenang masa-masa serunya mengejutkan orang-orang dengan ledakan petasan saat malam takbiran bersama para sahabatnya.

Jony, Bedjo, dan Kaslan nama ketiga sahabat kecilnya. Selain Jony yang anak juragan pabrik batako, Kaslan dan Bedjo hanya anak para buruh tani. Kuasa Jony dalam hal materi membuatnya sering mentraktir ketiga sahabatnya makan di pinggiran Pasar Kepanjen.

“Mana kopiku?”

Terdengar bunyi gemelitik badan sendok yang beradu dengan cangkir. Sunandar menerima kopi dari Marni. Belum sempat ditelannya seluruh air kopi itu, buru-buru dia semburkan. Pahit. Rupanya sudah tidak ada gula yang tersisa sesendokpun di dapur.

Bersamaan dengan kopi pahit itu, kenangan pahit ikut pula menyeruak dalam benaknya.

Selepas empat puluh hari kematian sang ayah, amanat orang tua itu beberapa hari sebelum ajalnya benar-benar membuat Sunandar kelimpungan. Sebagai putra dari seorang yang dekat dengan ayam, dia tak pernah menguasai dengan benar tekhnik cara beternak, mengontrol telur-telur, hingga hal pemasaran. Selain membersihkan kandang dan memberikan dedak, praktis tugasnya hanya penikmat hasil olahan ratusan ayam itu.

Buahnya bisa dipastikan masak lebih cepat dari penghitungan quick count Pemilu Gubernur. Usaha Sunandar bangkrut. Bukan hanya karena kurang terampil mengelola bisnis warisan itu, dukungan wabah flu burung turut andil membumihanguskannya.

Didorong oleh kenekatan dan terlebih angan hidup mewah, usaha ayam gulung tikar dan ia menjual sepetak sawah warisan untuk ongkos menuju ibukota.

Keras. Nyata. Hanya dua itu yang dikecapnya ketika menginjakkan kaki di jantung perkotaan. Tidak ada opor atau recehan sekalipun yang turun tiba-tiba. Keduanya bisa diraih dengan imbalan kerja, sementara pintu perusahaan menutup diri untuk golongan berijazah rendah dan tak berkualitas semacamnya.

Setelah dua tahun serabutan, secercah harapan menghampiri ketika salah seorang kenalan barunya menawarkan pekerjaan di pabrik kulit. Sayang, aroma menusuk kulit hewan yang dijemur sering membuat Sunandar mual dan muntah. Mandor pabrikpun mendepak.

Beberapa minggu kemudian seorang tetangga yang hendak pulang kampung menawarkan rombong bekas. Dengan sedikit tambal sana-sini, pompa ban kanan-kiri, dan sapuan cat baru, rombong usang itupun mulai setia menemaninya berkeliling menjajakan bubur.

*

“Bangun, Mas. Sudah kusiapkan semuanya. Tidak jualan kamu hari ini?”

“Malas.”

“Kalau kamu nggak kerja, darimana kita dapat uang? Mana Kang Eman terus nagih sewa, tagihan di warung membengkak. Ahh......aku pusing, Mas. Ayolah, kerja.”

“Capek, Mar. Aku ngider ke sana-sini nggak ada hasil. Kau tahu sendiri, jualan kita kemarin-kemarin cuma dapat berapa? Sedikit, Mar. Sedikit.”

“Apa orang perumahan sudah bosan sama bubur kita ya, Mas?”

“Bukan. Bukan begitu. Mereka itu sama saja seperti kita.”

“Sama bagaimana?”

“Sama-sama susah.”

Marni mengernyit. Sunandar membalik badan, menatap Marni.

“Kau kira yang rumahnya magrong-magrong itu hidupnya nggak susah? Mereka sama saja dengan kita.
Malahan lebih susah. Hutang kita di sana-sini paling besar sampai dua ratus ribu, mereka.......jutaan! Itu yang bikin mereka tidak lagi memesan bubur. Mereka juga sedang krisis!”

“Jangan ngomong sembarangan. Tahu dari mana, Mas?”

“Kang Parjo, tukang kebun di kediaman Pak Haryo. Majikannya sering memesan bubur setiap pagi. Tapi sudah seminggu ini, mereka tak mencegat rombongku lagi. Kata dia, majikannya itu sedang diusut dan diancam akan disel gara-gara menyelewengkan dana perusahaan. Korupsi. Sementara, anaknya sudah duluan merasakan prodeo. Gara-garanya apalagi kalau bukan pil-pil laknat itu. Siapa sangka, keluarga mereka yang hidup serba mewah itu ternyata nggak lebih baik dari kita.”
Suasana hening.

“Aku kok kangen sama masa-masa lalu ya, Mar? Sebelum Bapak meninggal, waktu kita masih jadi pengantin baru. Hidup waktu itu enak ya, Mar? Serba mudah. Nggak seperti sekarang ini.”

“Sekarang, juga enak. Walau kekurangan, aku masih bersyukur bisa terus hidup sama kamu, Mas.”

“Sudah lama kita di sini. Ternyata, yang kuangan-angankan nggak pernah menjadi kenyataan. Apa yang kita punya belum tentu menyelamatkan kita.”

Sunandar mulai mengoceh menyesali kemalasannya belajar semasa muda, penghasilan yang kecil, serta
keputusannya melabuhkan masa depan di kota. Peristiwa masa lalu semakin meracuninya. Masa lalu membuatnya berpikir harus melawan masalahnya kini dengan kembali ke garis awal.

Lalu tanpa ujung-pangkal, ia menyebut Jony sebagai kunci pemecah persoalan.

“Aku mau mencari Jony.”

“Jony? Mau apa?”

“Minta kerja. Kau tahu siapa dia. Bapaknya punya pabrik batako bagus di pinggiran kota. Aku kan berkawan baik dengan anaknya. Pasti dia bisa membantu.”

*

SETENGAH jam perjalanan dan angkot berlabuh ke riuhnya Terminal Gadang. Para makelar berkeliaran mencari calon penumpang bus yang hendak menuju kabupaten. Sejak lebaran tiga tahun lalu, dia belum lagi mengunjungi ibunya yang kini tinggal bersama bibinya. Niatnya selain mencari Jony juga sowan.

Belum genap melangkah di jalan aspal yang kumuh itu, seorang lelaki berlengan gempal menariknya.
Sunandar kaget dan ingin mengumpati sebelum senyum lelaki itu meredam amarahnya.

“Jo! Bikin kaget saja kamu.”

“Ndar, Ndar. Dari kecil kamu memang kagetan! Baru dibeginikan, kagetnya sudah setengah mati.”
Kedua sahabat itu berpelukan. Dengan bujukan Bedjo, mereka mampir sejenak ke warung kopi.

“Kau mau cari Jony? Ada urusan apa sama dia?”

“Minta kerja. Dia pasti bisa membantuku masuk ke pabrik batako bapaknya.”

“Nah, kau bilang kau di kota sudah punya kerjaan?”

“Aku di kota itu bukan jadi orang kantoran. Jadi tukang bubur keliling. Ah, kenapa harus jauh-jauh ke kota kalau cuma jadi tukang bubur. Nah, kalau misalnya aku bisa jadi karyawan di pabrik bapaknya, upahku kan bisa lebih besar. Koneksiku dengan Jony pasti bisa melicinkan jalanku masuk ke sana. Itulah, kenapa sekarang aku mesti mencarinya.”

Bedjo nyeruput kopinya.

“Sebaiknya jangan. Temui saja ibumu, lalu pulang,” kata Bedjo dingin.

“Kok?”

“Tak ada lagi yang sekarang bisa diharapkan dari Jony selain ocehan ngawur!! Tak ada yang bisa diharapkan dari orang yang sudah nggak waras seperti dia!”

“Gila?! Jony gila?! Kenapa bisa gila? Kesambet jin gardu?"

“Judi.”

“Judi?!”

Bedjo menertawakan Sunandar yang ketinggalan berita.

“Kujelaskan, Ndar. Bapak sama anak sama saja. Dulu, kupikir kalau omongan orang-orang tentang bapaknya si Jony yang suka judi itu cuma isapan jempol. Eh, sekarang terbukti kalau itu benar. Permainan setan itu benar-benar menjarah habis harta mereka.”

“Kau bohong kan?”

“Apa untungnya aku bohong? Ini kenyataan, Ndar! Mereka sudah jatuh miskin. Rumah, uang, mobil
semua ludes. Termasuk pabrik. Sekarang mereka lebih parah dari kita. Kere! Gila lagi!”

Sunandar tercengang-cengang.

“Astaga! Dimana dia sekarang?”

“Mau cari Jony? Noh, di rumah angker Mbah Sukri. Jadi gembel. Sableng. Gimbal nggak karuan”

“Nah anak-istrinya ke mana?”

“Mana punya istri dia! Istrinya ya dadu sama kartu itu. Tapi mungkin sekarang dia sudah punya pendamping. Ya siapa lagi kalau bukan kuntilanak di rumah tua Mbah Sukri itu. Hahaha..!!”

Sunandar termangu. Satu demi satu bus perlahan terdorong meninggalkan terminal. Seperti aroma wine yang menguap begitu cepatnya.

Kamis, 10 November 2011

Dream(s)


mimpi mimpi kita ada di seberang
di antara kelip pelita Eiffel. Di lorong lorong
gelap Bakersfield. Di tiap ketukan not panjang,
juga di dinding dinding kubah opera.

mimpi mimpi kita lapang terbentang
di sepanjang gugusan bintang Vega,
di hempas sembujung samudra Hindia,
juga yang terduduk manis di rahim ibunda.

sementara sibuk menerjemahkannya
dia datang sendirinya. Berkata bahasa
sederhana: Hidup tumbuh bersamaku, ketika asa
sepertinya sudah jatuh terjuntai.

dan mimpi mimpi kita (terus) berbicara
sementara kita (terlalu) sibuk menerjemahkannya

Senin, 07 November 2011

Pada November Ketiga


Ruangan Ernest berada di lantai dua di gedung bercat abu abu itu. Tidak banyak yang masih setia menemaninya di malam yang sudah melangkah di dua jam sisa waktu perputaran hari. Selain siulan sejuk AC dan secangkir cappucino dingin, praktis hanya berkas berkas di sneilhecter kuning itu yang masih tak beranjak dan sekaligus membuatnya tetap terjaga.

November memang selalu kelabu, Ernest tahu itu. Selain karena itu adalah gerbang menuju akhir tahun yang berarti Samuel, kepala divisinya yang opurtunis, akan memaksanya kerja romusha mengejar target pencapaian petutupan tahun, bulan ke sebelas seolah menjadi alarm ulang tahun yang tidak patut untuk dirayakan sekedar dengan cara yang sederhana sekalipun.

Bunyi ketukan keyboard masih ritmis berkejaran ketika tiba tiba ia merasa bahunya pegal. Berhenti mengetik malah membuat bagian tubuhnya yang lain ikut memanja. Leher, pergelangan, pinggang, punggung, lalu mata. Ia nyalakan TV untuk mencegah kantuk turut hinggap. News Flash sedang tayang di channel TV nya.

”Hhh... ’Hidup bukanlah untuk mengaduh dan mengeluh’, itu artinya kita mati.”




Ernest merasa geli sekaligus sarkastis telah menyitir puisi pujangga yang diberitakan wafat setahun lalu itu. Iapun melanjutkan percakapan dengan lawan bicara dirinya sendiri.

”Tapi kan memang tidak ada yang salah. Toh Rendra coba membuat kita bangkit. Tidak terpuruk oleh keluh. Kau seharusnya lebih tahu, dengan pendidikan dan posisimu ini, orang yang tidak kuat menanggung keluh, dia lebih pantas tidak dilahirkan.”

”Humm....jadi aku pantas dilahirkan? Ohhh.. betapa mulianya. Lalu bagaimana dengan rehat, berendam di jacuzzi, atau berbuat hal nakal di sebuah hotel yang tak satupun orang di sana mengenalmu? Apa artinya aku mati dengan memilih menyerah oleh keluhan lalu pergi berlibur?”

”Itu artinya, kau tidak menyelesaikan apa yang kau mulai.”

”Kenyataannya memang tak pernah ada yang selesai. Dalam skala besar atau kecil. Termasuk ya oportunisme Samuel, Menteri, Presiden. Dan...a a a... jangan bawa bawa teologi dulu di sini, aku tahu kau tak seberapa bijak dengan itu.“

Ernest meminum sisa cappucino-nya. Mulai menyulut rokok.

“Kau hanya lelah, atau jenuh, itu saja. Tidak ada yang salah dengan Samuel, dengan kebijakan politik Menteri yang berimbas pada perusahaan, atau dengan studi Emily, ...tidak ada. Nonsens. Kau hanya lelah. But you’re not dead yet, are you?“

Sisi lain dirinya tidak menjawab. Hanya menghela nafas. Ia kembali pada dunia nyata di sekelilingnya.

Pembawa berita News Flash itu telah selesai dengan berita mengenang si pujangga kenamaan negeri ini. Sudah lima belas menit lalu malah. Iklan berbagai macam produk kini selang seling silih berganti bermunculan.

Ernest mematikan televisinya. Ajaib, perdebatan itu membuat aliran darah ke otaknya lebih lancar. Tapi ia masih enggan menyentuh kertas dan keyboardnya kembali.

Ia buka tirai ruangan. Menatap lepas menembus jendela. Jalan searah di bawah sana cukup lengang kecuali di pinggir trotoar. Malam tumbuh semakin pekat dan gerah. Bulan tidak terlalu terlihat. Ada beberapa gerombol awan keabu abuan yang mencemari remangnya.

”Mungkin benar, hanya jenuh,” desahnya.

Ernest memijit pelan keningnya. Sejenak itu, pandangannya kembali menerawang jauh ke seberang. Sebuah suara membangunkannya dari lamunan.

”Ehm, kalau cuma ngelamun, sampai pagi juga nggak selesai lho itu,” celetuknya.

”Eh, oh – Kamu, kukira udah pulang?”

Linda, perempuan itu, menjawab:

”Yaahh, maunya. Barusan habis karaokean, eh pas nyalain mobil baru deh ingat data di flashdisc ketinggalan. Apa boleh buat, balik kucing deh. Haus. Boleh?” tanyanya kemudian seraya membuka kulkas kecil dan menunjuk sebotol Cola.

Ernest mengangguk.

”Kan besok masih bisa? Sregep amat.”

”Ow, ow, besok aku cuti dua minggu Omm... hehehehe, makanya malam ini mau ku-email datanya ke juragan besar,”
jawabnya renyah.

Lalu setengah berbisik Linda meneruskan:

”Jelang married, nggak boleh lama lama di dunia luar, nanti nggak steril.”

”Gombaall, palingan clubbing jalan terus, haha.”

”Hihihi, iya juga sih. Eh, foto ini? Masih kamu simpan toh ternyata?”

Tahu-tahu Linda sudah duduk manis di hadapan komputer Ernest. Screen saver yang tadinya gelap itu memunculkan wallpaper desktop-nya. Tampak foto lama Ernest, Linda, dan tiga kawan kerja mereka yang lain. Kelimanya duduk di pinggir sebuah kolam dengan beberapa ikan sebesar lengan bergerombol lucu di sekitar kaki mereka. Berkas sinar matahari yang jatuh di antara keempat orang itu membuat foto berkesan unik. Semua terlihat gembira.

”Iya, tadinya mau kuganti gambar Risa Tsukino telanjang, tapi nggak jadi.”

”Najis... hehehe. Ini dua tahun lalu, kan?.... humm... people changes ya?”

“Maksudmu?”

Linda menunjuk salah satu lelaki paling tua di dalam foto itu.

“Yang ini, sudah jadi Branch Manager Semarang,” jarinya menunjuk seorang lagi di ujung. ”Yang ini sudah punya apartment sendiri. Yang satu ini, sudah jadi istri Sarjana Komputer dan sebentar lagi bakal lulus kuliah S2-nya. Terusss, yang satu ini, yang puaalliing cantik, hehe, bentar lagi mau honeymoon ke Bangkok. Bye bye office. Miss you much like crazy. Nah tinggal sisanya, cowok yang satu ini .... “

Ia tak melanjutkan saat jarinya menunjuk foto Ernest dan hanya mengerling ke orang aslinya.

“Yang satu itu sudah lelah dan penuh penyesalan,” jawab Ernest.

Sebenarnya Ernest asal saja bicara, tapi tiba tiba ia terkejut sendiri telah berkata demikian.

“Hush, ngomong apa to? Gaji besar dan posisinya enak kok menyesal? Alhamdulillah harusnya, Mas. Uangnya dibeliin sesuatu apa gitu, biar jadi: Alhamdulillah ya, sesuatu,” kata Linda cengengesan.

Ernest hanya menggeleng gemas. Beberapa detik kemudian, tik tok suara hujan pelan pelan berderai. Sebuah tirai putus putus memanjang berwarna bening keperakan menjuntai dari langit ke bumi.

“Aku mesti balik, Mas. Kamu cepat pulang juga gih. Sisanya besok pagi saja,” kata Linda.

“Tanggung Lind, tinggal dikit.”

Linda tersenyum.

“Punyalah waktu untuk dirimu sendiri, .. don’t loose yourself.

“Aku tahu. Aku tahu itu.”

“Orang gampang sekali menasihati orang lain Mas, tapi kadang sukar buat menasihati dirinya sendiri. Ah, sudahlah, kamu pun pasti lebih tahu itu.”

“Jangan ngeledek deh.”

Di ambang pintu, sebelum kakinya bertolak keluar, Linda teringat hal yang menahan langkahnya.

“Ini November ketiga, kan?” tanyanya tanpa berpaling menatap Ernest. “Merseyside dan kota ini selisih tujuh jam. Aku lihat sepintas tadi di weather forecast CNN, di sana katanya juga sedang hujan. Kalian suka sekali hujan, kan? Semoga juga semenarik ini, walau masih ada matahari – ah aku nggak mengerti mainan hujan kalian -  ... Aku pulang.....”

Ernest tidak menyahut. Linda sudah lenyap dari ambang pintu. Derap derap high heels-nya tertelan keriut lift dan denting hujan.

Ia melirik kalender dinding. Ini November ketiga sejak Emily berangkat meneruskan studi. Sejak hari itu, hal hal kecil menjadi mudah dikeluhkan. Ditambah pertengkaran kemarin, ia masih galau atau lebih tepatnya rikuh untuk memulai kembali percakapan.

Bau hujan merebak. Aroma asing alam yang terbawa sayap angin terasa begitu segar. Emily suka sekali membaui hujan. Duduk berbincang sambil memandang hujan yang sama walau berbeda waktu dan tempat tentu akan membuat segalanya lebih mudah, batinnya.

Merseyside dan kota ini memang terpisah tujuh jam. Tapi, apakah di sana benar sedang turun hujan?

Selasa, 01 November 2011

Waktu Hujan Turun ...


Waktu Hujan turun, ...
ada derai manis yang entah itu bermakna bagaimana
juga kesibukan kecil, sekedar menangkap Cakrawala
atau bercermin pada genangan di jalanan.


Ada hiruk pikuk yang sibuk mengitari kita:
bunyi serakan kertas, derap pantofel coklat
atau sekedar siulan yang tiada henti berkelabat
dan menelusupkan kata kata bijaksana.


Waktu Hujan turun, ...
aku menarikmu yang tersuruk di setumpuk
berkas berkas kontrak. Menyandarkanmu
agar Hujan, Langit, dan Cakrawala itu dapat kita lipat


sebagai album kenang kenangan ketika
Anak Anak Jibril berkejaran sepanjang siang ...