Dahulu kala, once upon a time, ada seseorang (sebut saja si ABC) yang entah habis mendengar khotbah dari siapa, kemudian ia menguliahi seseorang lainnnya (sebut saja si DEF) mengenai filosofi HP. Apakah gerangan filosofi HP alias handphone itu? :D
*
Jadi begini ceritanya:
Pada waktu itu si DEF, ceritanya sedang patah hati, gara garanya ditinggal berpisah oleh si kekasih. Sebagai manusia, tentu pada mulanya si DEF, merasa berat. Sesak. Terpukul. Telinga seolah buntu dan berdinding tebal untuk sekedar menerima asupan kata-kata: "Wis talah diikhlasno ae" atau "Relakan ae, engkok ono gantine, sing sabar".
Hari demi hari, si DEF masih saja tidak percaya dengan keadaannya sendiri saat itu, lalu berceritalah dia kepada si ABC. Kebetulan pula si ABC ini sedang "kebanyakan" masalah jadinya ia lahap saja semua curhatan dan permasalahan si DEF dengan tanpa melewatkan satu jeda pun. Intinya: kenapa si kekasih DEF ini kok pergi, sementara si DEF begitu berbahagia ketika bersama seseorang itu.
Lalu berkatalah si ABC ini mengenai filosofi HP. Si ABC menceritakan kepada si DEF, dulu ada seseorang (entah siapa, sebut saja si XYZ) yang sangat ingin sekali Handphone. Suatu hari, saat kebutuhan komunikasi benar benar mendesak antara si XYZ dengan keluarganya, muncullah seorang baik yang mau meminjami HP kepada si XYZ. Ia memperbolehkan menggunakan HP itu selama ia suka, namun ketika nanti tiba waktunya, si XYZ harus rela mengembalikannya kepada pemiliknya.
Aduhai, alangkah senang bukan kepalang si XYZ ini. Betapa bahagianya si XYZ ini karena dapat menghubungi keluarganya nan jauh itu. Betapa kini hari harinya tak lagi tepekur sepi karena suara ayah-bundanya itu terasa benar ada di samping telinga. Ya, walau hanya sebuah suara, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hati si XYZ.
Hari demi hari si XYZ tak pernah melepas HP itu dari tangannya, beribu ribu pulsa ia habiskan untuk mencari dengar suara keluarganya. Sampai pada suatu hari ia kembali bersua dengan seseorang yang telah dengan baik hati meminjaminya HP.
Seseorang itu meminta kembali HP miliknya yang telah dia pinjamkan kepada si XYZ. Mulanya si XYZ uring uringan, berat hati, kurang ikhlas, cemburu, mengapa harus dia kembalikan benda yang membuatnya bahagia itu kepada pemiliknya kembali? Mengapa ia harus dipisahkan dengan kesenangannya itu? Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Ya, hanya kata "mengapa" itu yang berputar putar dalam benak si XYZ. Sampai pada akhirnya, di tengah keputusasaannya itu, si pemilik HP berkata pada si XYZ:
"Bukankah sebelum kupinjami benda itu, dirimu begitu susah? Lalu aku membantumu. Kupinjamilah sedikit kegembiraan sederhana itu, dan kamu begitu bersemangatnya. Ah ... kalau kini aku mengambil kembali kebahagiaan yang sebelumnya kamu tak pernah merasakannya itu, bukankah mestinya kamu berterima kasih?"
Si XYZ hening.
Si DEF pun senyap.
Tinggal siul siul angin yang seakan tak mau menetap.
Lalu berkatalah si ABC ini mengenai filosofi HP. Si ABC menceritakan kepada si DEF, dulu ada seseorang (entah siapa, sebut saja si XYZ) yang sangat ingin sekali Handphone. Suatu hari, saat kebutuhan komunikasi benar benar mendesak antara si XYZ dengan keluarganya, muncullah seorang baik yang mau meminjami HP kepada si XYZ. Ia memperbolehkan menggunakan HP itu selama ia suka, namun ketika nanti tiba waktunya, si XYZ harus rela mengembalikannya kepada pemiliknya.
Aduhai, alangkah senang bukan kepalang si XYZ ini. Betapa bahagianya si XYZ ini karena dapat menghubungi keluarganya nan jauh itu. Betapa kini hari harinya tak lagi tepekur sepi karena suara ayah-bundanya itu terasa benar ada di samping telinga. Ya, walau hanya sebuah suara, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hati si XYZ.
Hari demi hari si XYZ tak pernah melepas HP itu dari tangannya, beribu ribu pulsa ia habiskan untuk mencari dengar suara keluarganya. Sampai pada suatu hari ia kembali bersua dengan seseorang yang telah dengan baik hati meminjaminya HP.
Seseorang itu meminta kembali HP miliknya yang telah dia pinjamkan kepada si XYZ. Mulanya si XYZ uring uringan, berat hati, kurang ikhlas, cemburu, mengapa harus dia kembalikan benda yang membuatnya bahagia itu kepada pemiliknya kembali? Mengapa ia harus dipisahkan dengan kesenangannya itu? Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Ya, hanya kata "mengapa" itu yang berputar putar dalam benak si XYZ. Sampai pada akhirnya, di tengah keputusasaannya itu, si pemilik HP berkata pada si XYZ:
"Bukankah sebelum kupinjami benda itu, dirimu begitu susah? Lalu aku membantumu. Kupinjamilah sedikit kegembiraan sederhana itu, dan kamu begitu bersemangatnya. Ah ... kalau kini aku mengambil kembali kebahagiaan yang sebelumnya kamu tak pernah merasakannya itu, bukankah mestinya kamu berterima kasih?"
Si XYZ hening.
Si DEF pun senyap.
Tinggal siul siul angin yang seakan tak mau menetap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar