Jumat, 30 Desember 2011


Jauh ... Jauh sekali 

Lalu hilang dalam kabut atau luruh dalam hujan

Jauh ... jauh sekali ...

Jumat, 16 Desember 2011

Bukumu, Jodohmu ...




Memilih buku adalah memilih jodoh. Dia ada bertebaran di mana mana:

- di rak nomor ke sekian;
- di tumpukan urutan ke sekian;
- di selipan ke sekian;

Hehehe, ... Ada banyak buku, ada banyak hati.

Namun, tidak semuanya selalu menggetarkan syaraf saat berada di dekatnya. Terkadang seseorang merasa berjodoh dengan sesuatu yang syahdu selayak Rumi. Ada pula yang terpikat materi kesederhanaan sekaligus kerumitan Sapardi. Terhenyak oleh dahsyatnya Nietszche. Bahkan, menangis haru karena bertemu Tuhan dalam Quran, Injil, Wedha, Torah, dan sebagainya...

Seseorang yang jatuh cinta kepada bukunya,
seseorang yang telah bertemu dengan jodohnya.

Lalu apa tanda kalau Kamu telah menemukan buku atau jodohmu itu?

Sepertinya halnya cinta kepada manusia, bercinta dengan buku tak bisa sembarangan. Ibaratnya, kalau Kamu memilih banyak buku, tapi kemudian menggeletakkan atau memajangnya saja sebagai hiasan di rak, maka bisa dikatakan Kamu mencintai banyak manusia hanya dari eksistensi luarnya saja. Tak pernah ingin tahu apa makna hadirnya bagimu atau pun makna hadirmu baginya.

Sebuah buku yang baik itu tidak banyak. Bisa saja banyak, tapi tidak datang bersamaan dalam satu waktu. Ia datang ketika Alam merasa Kamu membutuhkan.

Coba diingat ingat: apa pernah kamu datang ke toko buku, berjalan berkeliling dari satu rak ke rak yang lain, mengambil, memilih, mengembalikannya lagi karena kurang sreg (entah apanya), lalu mengitari lagi, memilih lagi, dan deg! ketika tatapanmu terpaku pada buku yang benar benar kamu cari – tak peduli dia di tumpukan paling atas atau tersudut di rak paling bawah – kamu dengan cekatan akan merengkuhnya.

Memandangnya penuh takzim, membaca sejenak endorsement di sampul belakangnya, mengelus, sebelum akhirnya mengajaknya pulang dan menikmati setiap kalimat yang ia tuturkan di sela aroma misterius secarik kertas.

Ya, sebuah buku yang berjodoh denganmu akan menuntun getaran hatimu kepadanya. Ia dan kata katanya akan membuatmu menangis, tertawa, melompat, merenung, berlari, berseru, bergairah, optimis, melampaui batas ruang, waktu, dan pengalamanmu  .... tapi tak pernah membuatmu jenuh.

Bukankah tak ada bedanya dengan jodoh pendamping yang ideal ? Hehehe ...


*
Selamat membaca ... : )




Kamis, 08 Desember 2011

Aku Debu ...


Aku sudah tidak punya apa apa lagi
tak juga seutas tali untuk menjaga layang layang
itu tetap berkejaran di gugusan mega.

Aku sudah patah atau menyerah berbagi
kecuali bulir bulir kata diam tak terjengkang
yang membuatmu nampak begitu berharga.

Di setiap akhir sujud sujud gamangku
Di setiap awal hari nampak begitu silau 









Selasa, 06 Desember 2011

Kamu dan Keajaiban KecilMu


Engkau - dan keajaiban kecilMu - yang membuat musim bergulir penuh warna.

Sebagai seorang Indonesia, Kamu hanya akan terpana pada dua musim, yang dahulu setiap enam bulan mereka akan bergiliran mengubah wajahnya (sekarang apa masih begitu?). Kemarau dan Penghujan. Silih berganti keduanya mewarnai bulan demi bulan perjalanan kita.

Ada kalanya langit meremang merah, dedaunan sewarna kenari, atau pernah mungkin Kamu temui hujan yang keperakan, busur busur merah - jingga - kuning – hijau di Utara, atau sekedar segerombol kelabu nakal yang begitu berat membebani langit? Itulah warna musim yang menaungi bentangan khatulistiwa ini.

Di Central Park of New York, setiap kurun tertentu hamparan Mapple itu akan menjadi saksi bagaimana oranye bisa begitu dahsyat mengalahkan birunya Lautan Pasifik. Di sepanjang Okinawa hingga Honshu, pada musim semi akan ada hanami yang menandai mekarnya putih bunga Sakura. Atau di belahan yang lain, di Montpellier, yang walau bisa dihitung jari tapi anggun dan magis salju musim dingin di sana begitu melegakan hati.

Terlepas apakah Kamu sedang tersandung dan berusaha menyelamatkan malam dengan bourbon atau yang lebih keras; terlepas dari apakah Kamu sedang melayang mendapati dirimu berada di puncak mimpi, warna warnaNya itu senantiasa sejajar dan beriringan dengan musik irama hati kita.

Warna warna ajaib musim tempat kita bersandar, merekatkan mimpi, atau sekedar menikmatinya tanpa suatu tujuan apapun selain menipu waktu. Warna warna musim yang abadi dan menjadi saksi bagaimana alam dengan penuh kasih, sabar, dan adil mengasuh dan membesarkan anak anaknya.