Engkau - dan keajaiban kecilMu - yang membuat
musim bergulir penuh warna.
Sebagai seorang Indonesia, Kamu hanya akan terpana pada dua musim, yang
dahulu setiap enam bulan mereka akan bergiliran mengubah wajahnya (sekarang
apa masih begitu?). Kemarau dan Penghujan. Silih berganti keduanya mewarnai
bulan demi bulan perjalanan kita.
Ada kalanya langit meremang merah, dedaunan sewarna kenari, atau pernah
mungkin Kamu temui hujan yang keperakan, busur busur merah - jingga - kuning –
hijau di Utara, atau sekedar segerombol kelabu nakal yang begitu berat membebani
langit? Itulah warna musim yang menaungi bentangan khatulistiwa ini.
Di Central Park of New York, setiap kurun tertentu
hamparan Mapple itu akan menjadi saksi bagaimana oranye bisa begitu dahsyat
mengalahkan birunya Lautan Pasifik. Di sepanjang Okinawa hingga Honshu, pada musim semi akan ada hanami yang menandai mekarnya putih bunga
Sakura. Atau di belahan yang lain, di Montpellier, yang walau bisa dihitung jari
tapi anggun dan magis salju musim dingin di sana begitu melegakan hati.
Terlepas apakah Kamu sedang tersandung dan berusaha
menyelamatkan malam dengan bourbon atau
yang lebih keras; terlepas dari apakah Kamu sedang melayang mendapati dirimu berada
di puncak mimpi, warna warnaNya itu senantiasa sejajar dan beriringan dengan musik
irama hati kita.
Warna warna ajaib musim tempat kita bersandar,
merekatkan mimpi, atau sekedar menikmatinya tanpa suatu tujuan apapun selain
menipu waktu. Warna warna musim yang abadi dan menjadi saksi bagaimana alam
dengan penuh kasih, sabar, dan adil mengasuh dan membesarkan anak anaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar