Little child, dry your crying eyes
How can I explain the fears you feel inside?
Cause you were born into this evil world
Where man is killing man;
and no one knows just Why?
- White Lion; 1987
Agaknya Mike Tramp ketika menulis lirik menyayat itu menyadari bahwa ia dan generasinya kala itu melihat realitas dunia di sekitar mereka tak ubahnya lahan yang disemai dengan benih ketakutan. Benih-benih itu lalu tumbuh subur dengan siraman peluru, diairi oleh darah dan air mata, sebelum akhirnya mengakar dan menjadi pohon yang berbuah pahit.
Generasi kita, tidak bisa kita sangkal, adalah buah sejarah dari generasi pendahulu. Kita diwarisi gen dan kromosom yang bersifat merusak. Walau memang masih ada gen yang bersih dan menolak bersenyawa dengan penebar perkara merusak itu, tetap saja hari ini - detik ini - kita melihat keberadaan degradasi akal sehat, nurani dan rasa toleransi itu masih menancap kuat.
Bahkan dengan kapasitas dan kapabilitas mencari atau menerima informasi, kita serasa mual dijejali berita terorisme, kejahatan seksual, politik kotor, KKN, dan entah macam apa lagi yang tentu takkan sebanding dengan berita baik yang di Retweet oleh akun sosial media semacam Good News From Indonesia.
Baru-baru ini, di sebuah sekolah SD di Indonesia, seorang siswa melakukan kekerasan seksual pada teman sekelasnya. Lalu sebelumnya, seorang siswa SMP, punya kenekatan untuk menghabisi teman satu sekolahnya dalam baku hantam.
Ada yang salah dengan masyarakat kita. Ada yang menyimpang dengan dunia pendidikan kita.
Kasus Jakarta International School (JIS) hanyalah pintu pembuka berbagai peristiwa serupa di lembaga belajar-mengajar. Diluar sisi perizinan keberadaan sekolah itu, kasus guru bertindak amoral adalah fakta menyakitkan.
Mungkin juga ada yang skeptis. Merasakannya sebagai euforia atau media yang lebay. Dan mereka menyangkal dengan mengganti channel televisi ke sinetron atau acara hiburan lain.
Bagi kita yang mengikuti kasus JIS di televisi dan berani untuk tidak menyangkal rendahnya moral di negeri ini, pasti telah tertanam dalam hatinya benih ketakutan.
Bagaimana nanti kalau ditinggal sendirian?
Apa sekolah itu aman?
Home schooling aja, deh.
Apa kami harus berhenti berkarir agar fokus ke perkembangan anak?
Begitu mungkin segelintir rasa was-was menengok ternyata predator anak tidak hanya ditemukan di sekolah berfasilitas eksklusif, tapi juga di sekolah atau lingkungan sosial yang jauh dari pewartaan media.
*
Padahal apa sih faktor pemicunya?
Silakan berandai-andai. Akan ada beragam imajinasi yang menggelantung di benak kita. Agaknya, setiap pilihan yang pernah dianggap ideal untuk melawan degradasi moral, justru malah menjadi embel-embel yang melekat pada pelaku kejahatan.
Agama, misalnya.
Kita menyandarkan hidup pada ajaran Tuhan yang kita anut masing-masing. Agama mengajarkan kebaikan, itu benar. Lho, kok terus ada ustadz atau pastur yang menyimpang?
Tentu kita tidak bisa menjustifikasi kejahatan berembel-embel agama karena ajaran agama tidak mampu mengontrol hasrat hewani. No. Not like that. Perilaku amoral terkait dengan pemahaman dan "kelihaian" menggunakan ajaran suci untuk pencapaian pribadi.
Masyarakat yang awam dan dalam pencarian nilai-nilai spiritualitas rentan menerima "kelihaian" ini. Hasilnya akan beragam. Dari tindakan asusila hingga perilaku terorisme.
Munculnya simpatisan Boko Haram di Nigeria adalah bentuk gagalnya pemahaman terhadap Islam dan kemanusiaan. Bahkan sesama muslim mereka bantai untuk menggaungkan pemerintahan Nigeria berdasarkan Syariah.
Konyol, bukan?
Memperjuangkan nilai syariah melalui hal semacam itu apakah dihalalkan? Boko Haram setidaknya telah menculik 200 siswi dan membombardir Nigeria Utara. Siswi itu akan dijadikan budak selama keinginan mereka belum dipenuhi. Kini Amerika, China hingga Inggris harus ikut campur. Kita tak pernah tahu, apakah murni untuk membebaskan 200 sandera atau bargain politic minyak di sana.
*
Hari ini, entah sudah berapa bayi lahir di dunia. Mereka menangis. Ya, menangis karena di rahim sana Malaikat telah membisiki mereka bahwa kelak akan mewarisi sejarah carut-marut krisis nurani dan moral dari zaman sebelumnya.
Mungkin itu adalah bayi Anda. Mungkin itu adalah bayi bangsawan Inggris. Bisa jadi itu bayi-bayi yang lahir di tengah panasnya Palestina-Israel.
Kita tak bisa mengelak bahwa kita telah mempersiapkan masa depan penuh tantangan bagi anak-cucu. Kita, generasi gagal paham ini, telah menyediakan ribuan soal untuk dicari solusinya oleh penerus kita: Perang, global warming, pembalakan liar hutan, terorisme, kemiskinan, dan rasa takut lainnya.
Kita tak bisa lama terlena. Jangan lagi mengkafirkan (menutup) hati. Ingat pesan syair Kyai Kanjeng:
Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng
Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar