Senin, 16 Juni 2014

Friends From the Old Times

 

Ketika kita menengok kembali, jauh ke waktu yang telah menanggal, ke masa silam yang bersemayam dalam kotak misteri, kita akan temukan kembali puing-puing prasasti. Cerita yang tak selalu senang; pun tak melulu duka. Dunia mistis yang kini hanya kita jumpai dari alam bawah sadar. Tentang masa kanak, kepolosan, mimpi dan hal-hal mujarab yang hari ini membentuk diri kita.

*

1990 – 2000

Kita adalah penguasa komplek ini. Kotak-kotak Sawojajar yang ajaib. Yang setiap sore tak pernah absen dengan riuh rendah suara kanak bermain bentengan, gobak sodor, petak umpet, atau sekedar lomba tinggi-tinggian melayangkan pesawat kertas.

Masih ingatkah, kalian?

Usia dan kesibukan telah menembok ingatan itu, mungkin. Tak apa. Aku pun begitu. Tak banyak yang bisa kuhafal. Rasanya, kumpulan peristiwa bagai bertabrakan. Nama-nama kalian, beberapa aku bisa mengingatnya. Juga karakter. Yang periang, yang manja, yang curang, yang jail, yang suka nangis.

Bukankah dunia kala itu begitu mudah?

Kita seolah tak peduli demam atau flu saat seharian hujan-hujanan. Tak jera mengulang walau sehabis menari dengan gerimis, kita dimarahi oleh ayah atau ibu. Dikunci di kamar mandi sambil meronta minta maaf. Hehe … atau bikin panik orang sekampung karena bermain terlalu jauh.

Kita tidak dibesarkan oleh internet. Permainan kita kuno, tapi dengan itulah kita menjadi dekat. Akrab. Berbicara dengan mata dan mulut. Membangun imajinasi melalui permainan rumah-rumahan, barbie kertas, lego, atau semacamnya. Teman kita mungkin tak sampai 500-an orang seperti di Facebook, tapi kita kenal satu per satu. Kita kenal keluarganya. Kita tahu isi kamarnya. Dan utamanya, kita kenal kepribadiannya.

Lalu mulailah kita memilih leader. Yang jadi induk ayam. Yang menentukan kemana hari-hari kita dimulai dan diakhiri. Hehe, pastinya dia yang paling tua, ya. Yang sok jagoan atau paling nggak yang mainannya paling banyak.

Heuheu …

Ah ya, kita akan merasa keren kala pulang sekolah langsung cepet-cepetan panjat cheri. Menemukan spot paling ranum. Lalu seperti monyet, kita bisa kenyang hanya dari buah kecil merah itu. Malamnya, kita tak sentuh PR, karena asyik main Mortal Combat, Galaxy, atau Icelander di Nintendo.

Masih adakah kalian ingatan tentang itu?

Kala itu matahari sore benar-benar hangat. Selalu ia membaluri tubuh kita saat berkumpul membicarakan hal-hal yang tak masuk akal. Insto dan air teh; biji jambu yang bisa tumbuh di lambung. Heuheu … mitos aneh yang anehnya kita percaya.

Waktu Ramadhan adalah surga dunia. Selain waktu belajar singkat (ah, emang kita peduli dengan pelajaran? Heuheu…), puasa adalah identik dengan petasan.

Sreng dor, kembang tetes, mercon dumpis, semua pernah kita mainkan. Bahkan salah satu dari kita melepuh tangannya karena pegang mercon di ujung yang masih ada serbuk mesiunya. Heuheu … Kapan lagi kan, nyumet mercon di depan rumah teman, atau diam-diam mengamati gerak-gerik orang mesjid yang sering marahin kita kalau rame saat sholat.

Selama Ramadhan, malam-malam kita lebih panjang. Siapa yang tak suka main polisi-maling. Gila, kalau jadi maling sampai sembunyi di kompleks sebelah yang jauhnya ga kekira. Heuheu … yang jadi polisi sampai capek nggak tahu mesti nyari kemana. Atau diam-diam pulang makan ketupat, pas lagi main petak umpet. Heuheu … nyebelin.

Kita dibesarkan oleh Oasis dan Dewa 19, tapi tak satupun dari kita bisa main band.

Kita lebih suka sepak bola. Musik, kala itu bukan pilihan yang nampak seru. Tapi bola, lapangan becek, dan lawan dari komplek lain adalah hal yang menggairahkan. Bolanya plastik atau bahkan dari kertas yang digumpalkan. Dan, kita bahagia dengannya. Njebol gawang pakai bola kertas itu serasa jadi Ronaldo luiz Nazario ngegolin ke gawang Angelo Peruzzi.

Kita hidup dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana dari dunia yang kini kita kenal.


Mesin dingdong, main lompat tali, gundu, congklak, halma, umbul, panjat pohon, serial Keluarga Cemara, jenius ala McGyver, Mr. Bean, komik Rantaro, Tabloid Fantasy, bazar Jalan Sehat Kemerdekaan, Tamiya, kita hidup dari hal-hal semacam itu.

Hal yang kini pelan-pelan tergusur waktu. Seiring olehnya, kita bercerai. Satu demi satu menutup diri, pindah, konsen studi, punya kenalan baru, atau menyadari bahwa masa 1990 – 2000 adalah masa kekanakan sementara hidup harus mendewasa.

Lalu, berpisahlah kita.

Memang, dalam hidup ini, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tak selamanya kita bersama. Kadang dengan melepaskan seseorang, kita menjadi tahu seberapa besar kangen kita kepadanya.

Mungkin tak semua bisa menjumpainya. Kalau sedang beruntung, reuni adalah jalan yang baik. Namun tetap saja, kita tak bisa membeli hal-hal yang sudah berlalu. Yang kita lakukan kemudian adalah menertawakannya. Heuheu… menertawakan kepolosan kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar