Sabtu, 02 Juli 2011
Romance Pregnancy
Matahari sudah condong hampir ke atas kepala
ketika ia mendapati lelakinya masih dalam piyama tidur
dengan rambut berantakan, noda kopi di bibir atas, dan
sebatang cigarette yang masih tinggal separuh.
Pelan pelan ia berjalan mendekati lelakinya
sambil mengelus separuh nyawa yang tertidur
nyaman dalam kandungan ketujuh bulannya.
"Kok belum ngapain ngapain, Sayang?"
Diliriknya kunci sedan, masih tergeletak di samping tv;
kemeja yang semalam disetrika, terlipat rapi di peraduan;
sepasang pantofel hitam yang tak beranjak seinci dari rak;
dan lelakinya yang tersenyum tak bergeming dari tempatnya.
Hangat dan lembut ia rasakan jemari lelakinya menyambut,
menelusur dataran kening kemudian gundukan pipinya
sambil membisikkan kalimat Ilahi untuk ia dan bayinya.
"Coba aku mau dengar dulu...., aku mau dengar dulu."
Didudukkannya istrinya. Didekatkannya telinga
ke bumi subur yang merumahi ruh murni itu
ada degup degup samar serta renda renda angan
akan Adam atau Hawa kecil yang nanti di pangkuannya.
"Bukannya, ada meeting menunggu?"
Lelaki itu tersenyum mendongak
lalu kembali terbuai dengan kandungan
mengecupnya dan mendoakannya bergantian
sementara, matahari sudah memanjat semakin tinggi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar