Di pintu Maghrib
saat Matahari melemah dalam kemelut senja
dan udara magis merebak, seolah menidurkan kehidupan
atau sekedar isyarat ketiadaan?
ketiadaan yang membawa ada. Ketiadaan yang bersih
- seperti bayi : Ketiadaan yang fitrah
Sebelum masa membawa tiada kepada yang meniadakan
Dan kita menjadi sibuk menganut Utara atau terhasut Selatan.
Nyaman bersemayam di gubuk iri hati, dengki, atau prasangka.
Terlena, dimabuk dibelai belai cinta
sementara hakikatnya sendiri terselip entah di mana.
Kasih sayang itu saling memberi, bukan menunggu diminta.
Ia seperti memandang dari gerbang Selatan untuk menghampiri rumah Utara
Ia tak berkehendak menentukan nilai kebaikan, sebelum mereka
yang dinafkahi pemberiannya merasa tercukupi olehnya
Ia adalah ketiadaan, tak ubahnya di pintu Maghrib
saat Jingga jatuh cinta dan ia berikan ruhnya sedikit demi sedikit kepada Hitam
sembari menyeru alam Manusia kembali kepada yang Maha Meniadakannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar