NAMUN, beberapa hari sejak pertemuan itu, Cheryl tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan Rivael yang gelisah mencarinya. Tidak ada kepastian yang bisa membuat Rivael tenang walau hanya tahu sebatas di mana bayangan Cheryl kini melekat. Wanita itu telah lenyap bagai asap. Sebelumnya, sebelum Cheryl meninggalkan sedan Rivael dan melangkah menuju kediaman Dewi,ia telah menjanjikan akan menemui Rivael di rumah sepupunya.
Sebuah rumah susun kecil yang saat ini hanya disinggahi oleh Surti, satu-satunya keluarga Cheryl selama di Jakarta. Dan dari mulut perempuan tiga puluh tahunan itulah, Rivael kemudian menyadari Cheryl telah menipu dengan tidak membiarkan Rivael bertemu dengannya kembali.
“Cheryl sudah pergi,” kata Surti ketika Rivael bertamu ke rumahnya. “Dia sudah menuntaskan apa yang dia mulai sebelumnya. Ia sudah selesai mengajar kursus untuk murid-muridnya. Dewi adalah muridnya yang terakhir di kota ini. Itu adalah kewajiban terakhir sebelum akhirnya dia pergi.”
“Pergi? Sendirian?” kata Rivael tak habis pikir. “Apa yang Mbak lakukan dengan sudah membiarkan ia pergi sendirian? Ini kota besar! Megapolitan! Bukan dusun kecil di pinggiran sawah yang orang-orangnya satu sama lain masih saling kenal! Bagaimana, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dia? Bagaimana kalau ada orang berengsek yang mengganggunya? Mbak sama sekali tidak memikirkan itu?”
“Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Surti dengan tegas.
“Karena aku sendiri yang mengantarnya.”
“Ke mana?”
“Pulang.”
“Pulang? Pulang ke mana?”
“Ke tempat seharusnya dia berada. Keluarga.”
Sambil mengatakan hal itu, wanita berkacamata, berambut sedikit ikal, berperawakan tegap layaknya seorang polwan itu bangkit dan menunjukkan tanda halus yang menyiratkan Rivael harus meninggalkan dia dan rumahnya.
“Sepertinya, tidak ada lagi yang harus aku beritahu soal adik sepupuku,” kata Surti kemudian.
“Tunggu, tunggu,” kata Rivael memohon. “Tolonglah. Saya harus bertemu dengannya. Sekarang. Tolonglah....”
Surti memandang dengan pandangan menyelidik. “Apa yang kau inginkan dari sepupuku? Apa yang membuatmu ingin sekali bertemu dengannya?”
“Saya hanya ingin berbicara.”
“Berbicara? Bukankah kau bisa berbicara dengan orang-orang lain – wanita lain – selain sepupuku?”
“Saya tidak punya perasaan jahat kepadanya.”
“Tidak?” kata Surti dengan suara sedikit tinggi. “Memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya malam itu? Kau menyetir seperti orang kesetanan, tiba-tiba berbelok di tikungan, lalu menghantam aku dan Cheryl yang sedang menyeberang? Aku memang tidak apa-apa, tapi sepupuku...........Aku tidak ingin melihat dia kehilangan lagi!”
“Itu kecelakaan,” bela Rivael. “Saya tak bermaksud sengaja menabrak. Tapi, saya sudah bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit. Lagipula, Cheryl sudah memaafkan saya atas kejadian itu.”
Sambil membuang muka, Surti berkata: “Dia memang terlalu baik,” katanya datar.
“Tapi aku tetap tidak akan memberi hal yang lebih jauh mengenai Cheryl selain apa yang sudah aku katakan tadi. Sekarang, dengan segala hormat, aku memintamu meninggalkan tempat ini,” lanjutnya seraya berdiri dari sofa.
Rivael bangkit dengan setengah hati. “Apa yang sebenarnya membuat Mbak menghalangiku untuk bertemu dia?” tanya Rivael sebelum meninggalkan ambang pintu.
“Aku yakin kau tahu,” kata Surti seraya menutup pintu.
Tertutupnya pintu rumah susun itu telah menutup kesempatan Rivael untuk mengorek keterangan lebih dalam tentang Cheryl dari mulut Surti. Walau pada esok, dua hari kemudian, minggu berikutnya, Surti masih bersedia membuka pintu dan menatap Rivael, tapi mulutnya tidak pernah terbuka jika pembicaraan mengenai Cheryl mulai mengalir.
Dia membiarkan Rivael menemukan peti hartanya tapi tak pernah memberikan kunci pembukanya.
Mengapa Rivael harus merasa hampa kehilangan jejak Cheryl? Mengapa dia harus “merendahkan” dirinya kepada seorang perempuan teguh seperti Surti demi sebuah informasi? Bukankah sebelumnya dia sudah terbiasa mendapatkan segalanya dengan sebuah rayuan ataupun senyuman? Mengapa bayang-bayang Cheryl tidak ingin ia lepas dari jaring-jaring benaknya?
Dan mengapa ia harus menikahi Jessica yang masih tergolong hijau dengan seluk-beluk dunia itu?
Jessica adalah tempat bernaung Rivael. Dia adalah wanita hebat yang bisa memberikan tempat teduh bagi Rivael, memberi belaian dan sayang, dan membantu Rivael sedikit demi sedikit memudarkan bayangan Cheryl yang merajai pikirannya.
Sebenarnya, Jessica tidak peduli yang terjerat di benak kekasihnya itu Cheryl, Wanda, Laudya, atau wanita-wanita lainnya. Satu yang Jessica peduli adalah bahwa dia mencintai Rivael dan tak ingin kekasihnya itu tenggelam dalam romansa dengan yang lain. Sebuah perasaan manusiawi yang dimiliki oleh setiap insan.
Dan bagaimanapun, bayangan yang real jauh lebih membius daripada bayangan semu yang semakin hari semakin samar. Tubuh yang nyata lebih bisa merasakan gundah, cinta, dan sakit kita daripada sepotong daging dan tulang yang hanya ada dalam maya. Dan dalam hal ini Jessica lebih nyata daripada Cheryl dalam berbagi perasaan.
Menganut falsafah Jawa wiwit tresna jalaran saking kulina, perhatian dan keterbukaan Jessica serta Surti yang terus-menerus bungkam seolah mulutnya hanya digunakan untuk makan dan minum, Rivael akhirnya membiarkan Jessica mengurus hatinya yang porak-poranda.
Mereka menikah.
Satu tahun kemudian lahirlah Evan kecil di tengah-tengah kebersamaan mereka. Buah cinta paling berharga sekaligus kado terbesar dan terindah bagi Rivael. Evandra lahir dua hari sebelum Rivael merayakan ulang tahunnya yang ke 28. Keberadaan anak mungil itu membuat Rivael menikmati peran barunya sebagai ayah dan
pemimpin keluarga. Dia turut membantu memandikan bayi lucunya, mencucikan popok yang kerap kali basah oleh pipis, menimang, meninabobokkan, dan kegiatan-kegiatan kecil lainnya yang tentu saja selain menyusui saat si kecil mulai lapar.
Ketika menginjang usia dua tahun, sebagai seorang ayah yang baru pertama kali menimang seorang buah hati, Rivael dilanda kecemasan saat tiba-tiba suhu badan Evandra meningkat dengan disertai bercak-bercak kemerahan di kulitnya yang putih. Evandra terkena cacar. Dengan persiapan serba cepat, dia segera dibawa ke Rumah Sakit Harapan Manusia untuk penanganan yang lebih baik.
“Ia hanya kena cacar, Sayang,” kata Jessica menenangkan. “Sudah umum anak seusia Evandra kena cacar. Lebih bagus malah kalau dia kena cacarnya di usia sekarang. Coba kalau kenanya waktu Evan sudah remaja? Bisa malu dia sama pacarnya.”
“Seperti aku dulu,” kata Rivael. “Kau benar. Memang lebih baik kalau ia kena cacar sekarang.”
“Tapi, pacarmu waktu itu tidak menjauhimu, kan?”
“Tidak. Karena aku tidak punya pacar waktu itu.”
“Mengherankan,” kata Jessica dengan tatapan tak percaya.
“Itu kata-kata paling aneh yang pernah kudengar.”
“Aku ingin jalan-jalan sebentar, Jessy. Kau mau ikut?” tawar Rivael.
“Tidak, Sayang. Aku ingin di sini saja. Menemani anak kita. Ada beberapa hal juga yang ingin aku tanyakan pada dokter atau suster yang nanti ke sini,” kata Jessica.
“Baiklah,” kata Rivael. “Aku tidak jauh. Hanya di sekitar sini saja.”
Rivael mendorong pintu kamar ruangan itu lalu meninggalkan langkah dan sosoknya di balik pintu. Langkahnya terus terdorong, melewati koridor, dan tanpa pernah dia sengaja pandangan matanyatertambat pada gedung di seberang jendela.
Gedung itu menggerakkan debar hati Rivael untuk melangkah menuju pintunya. Dia menuruni tangga menuju ke lobi, melintasi taman yang hijau, menyeberang halaman, berjalan menapaki lantai koridor, hingga akhirnya Paviliun Mawar itu menelannya.
*
LANGIT bersaput mendung. Bintang-bintang dan rembulan perak tidak memancarkan sinar pemandu bagi manusia menuju jalan keselamatan. Gerimis masih mendera bumi yang padat dengan derasnya. Sesekali dari atas terdengar langit mengeluh keruh di sela-sela riuh gemercik irama air. Simfoni murni karya sang alam.
Aku berdiri menghadap jendela yang basah dan berembun, menatap menembus ke arah malam dan kelap-kelip jalanan yang tetap menggeliat. Rivael telah menyelesaikan hisapan terakhir rokoknya.Begitu juga dengan cerita tentang istrinya yang mungkin beberapa waktu lagi tidak akan satu ranjang lagi dengannya.
“Kau benar-benar bodoh,” umpatku tanpa menatap Rivael. “Jessy istri yang baik. Kau telah berbuat yang akan bisa kau sesali seumur hidup, Rivael!”
Rivael duduk santai di sofa dengan kaki disejajarkan di atas meja.
“Kau belum pernah menikah. Aku beritahu, Jeremy: kalaupun diteruskan, kami tak akan bahagia.”
Aku berpaling cepat menghadap Rivael. “Kau yang tidak bahagia; bukan mereka!” kataku lantang. “Kau cuma mementingkan dirimu sendiri, bukan anak – istrimu! Kau salah, Rivael.”
Rivael menjawab melalui lengannya. “Aku masih memperhatikan mereka.”.
“Ya, dengan menceraikan mereka,” sindirku. “Menceraikan Jessy karena kau ingin berfantasi dengan perempuan lain bernama Cheryl itu! Ternyata media benar. Kau memang berselingkuh di belakang istrimu.”
Aku menghela nafas panjang lalu dengan langkah yang kurang sabar segera mendekati Rivael yang tampak acuh.
“Katakan kau mencintai Jessy. Katakan kalau kau tidak ingin gugatan ini berlanjut. Katakan pada pengacaramu kalau kau masih ingin rujuk dan memulai rumah tanggamu kembali.”
“Aku mencintai Jessy,” kata Rivael. “Tapi mengertilah, Jeremy. Kami tidak akan bersama lagi. Sudah aku katakan pada Jessy, bahwa setelah nanti kami bercerai, tanpa pengajuan gugatan hak milik bersamapun aku tidak segan akan memberikan apa yang kupunya untuk dia dan Evandra. Dia dapat memiliki apa yang telah kami miliki bersama-sama sebelumnya. Semua itu untuk kebutuhan dia dan anakku. Aku sudah tidak membutuhkan ini semua, Jeremy. Tidak lagi.”
Aku mengamati bola mata Rivael yang jernih dan tidak berkesan hampa itu. Semua yang meluncur dari mulutnya benar-benar atas kesadaran otak, hati, dan pikirannya.
Rivael menjulurkan tangannya meraih bahuku.
“Percayalah, Jessy akan hidup lebih tenang dan bahagia setelah semua ini selesai. Aku bukan orang baik untuk perempuan sebaik dia. Aku yang sekarang ini tak lebih hanya seorang lelaki yang berharap ingin segera mati,” katanya.
Aku menarik tubuhku.
“Kau mungkin benar,” kataku seraya berjalan mendekat ke jendela. “Mungkin aku memang belum bisa mengerti apa yang ada dalam perkawinan. Tapi, bukan kau orang yang menentukan sesuatu itu baik atau tidak, Rivael. Bukan kau.......”
Rivael menurunkan kakinya.
“Aku sadar benar Jessy mencintaiku, namun jika ia terus berusaha mencintaiku sementara pikiranku tidak pernah ada untuknya bukankah itu berarti aku orang yang kejam. Orang yang busuk. Orang yang tidak baik,” katanya.
“Mungkin kau tidak akan pernah menjadi orang baik,” kataku lirih.
Kami saling menutup mulut dalam keheningan. Ruangan semakin terisi hawa dingin. Gerimis terus menderu. Kadang bila angin cukup kencang butiran-butiran air itu terhempas keras menghantam kaca jendela, meleleh seperti air mata, jatuh menuju bumi, dan pada akhirnya berkumpul kembali menjadi sebuah kesatuan yang sanggup menenggelamkan telapak-telapak kaki kami.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanyaku memecah keheningan.
Rivael diam sejenak. “Mengorbankan segalanya untuk mencari Cheryl.”
Aku berpaling padanya.
“Masih ingin mencarinya? Sepertinya, kakak sepupunya benar-benar kebal terhadap suap dan rayuan gombalmu. Apalagi yang akan kau andalkan untuk membuka mulutnya?”
“Aku akan mencari jalan lain,” kata Rivael. “Hubungan batin dengan Cheryl yang entah sekarang ini berada di mana.”
Aku tertawa kecil, mengejek. Namun Rivael tidak memperhatikan.
**
(Bersambung)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar