Kalau setiap sore Kamu menengadah ke langit, kalau suasana mendukung dan Mendung tidak duduk duduk menggerombol di sana sini, pasti kamu akan jumpai fonemena penjedaan. Suatu moment yang berjalan beberapa menit dalam selimut oranye sebelum akhirnya gulita pelan pelan mempergelap pelita Matahari.Senja menghadirkan dirinya sebagai penjeda alam Siang dan Malam.
Penjedaan semacam itu juga akan hadir di setiap kehidupan kita. Sadar atau tidak, hantu penjedaan inilah yang nggandoli kaki dan tangan manusia. Baik itu penjedaan yang berdurasi lama maupun singkat, baik penjedaan yang mengarah menuju dermaga bahagia atau sebaliknya, baik penjedaan yang mengarah ke wujud fana atau ke yang kekal.
Contoh konkrit, adalah moment ketika kita yang semula tertawa lepas, begitu dihadapkan pada penjedaan menuju diam akan merasai kekosongan sebelum akhirnya melebur ke dalam diam itu. Kita diposisikan dalam situasi lost of moment. Langit biru kita dijamah dan dipaksa menelan racun oranye Senja, sebelum akhirnya perlahan sekarat lalu mati menggelap.
Lost of moment inilah letak transisi perasaan yang menuntut pengertian. Kita tak mungkin selamanya gembira, atau pun bersedih. Kita tak abadi menjulang di puncak; pun tak seterusnya tersuruk di lembah. Cepat ataukah lambat kita akan berada di dalam jeda. Dan nilai sebagai manusia akan ditentukan apakah di dalam rentang ada dan tiada itu masih ada hati yang legowo menerima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar