Sabtu, 22 Agustus 2015

10 Perbedaan







Tentu kamu pernah bermain permainan ini. Atau setidaknya sekedar pernah mendengar atau melihat orang lain memainkannya di koran, tabloid, atau media lain. Permainan ini bernama “10 Perbedaan”, sebuah kegiatan membandingkan dua buah gambar kemudian si pemain diminta mencari 10 perbedaan dari kedua gambar tersebut. Permainan asah otak tersebut membuat kita berlomba dengan waktu untuk paling cepat menemukan perbedaan. Ada yang genap sukses 10, ada yang sampai habis waktu hanya menemukan 1 atau 3 saja.

Sekilas memang tak ada yang ganjil dalam permainan ini. Kecuali, jika di hari yang sangat lapar dan haus, kamu merasa aneh harus bermain mencari perbedaan dari dua objek yang memang sudah jelas berbeda sejak awal. Kamu diminta mencari perbedaan karena perbedaan itu sendiri. Lho, bukannya itu malah tantangannya? Biar naluri kita bergeliat aktif lalu seterusnya menjadikan akal kita paripurna karena berhasil menemukan bagian kecil dari dua frame yang sekilas tampak sama?

Heuheu ….

Atas karunia Tuhan kita lahir di sebuah gugusan yang campur sari. Rangkaian kebudayaan yang mana fragmen-fragmen penyusunnya berbeda satu dengan yang lain. Tentu kamu tahu yang hari-hari ini membuat kita gerah: penilaian atas perbedaan. Masyarakat kita terlalu mudah – dan cenderung gemar – mencari-cari perbedaan. Dalam batas kewajaran hal itu tentu tidak merisaukan. Namun, terkadang kita tidak bisa membendung saat kumpulan kegemaran mencari perbedaan itu menumpuk dan berbelok tajam ke arah yang menuntut pembenaran atas status dan keberadaan.

Kegagalan bermasyarakat yang harus dihindari oleh masyarakat kita adalah soal bagaimana cara menanggapi dan mengamati perbedaan di negeri yang memang oleh Tuhan ditakdirkan berbeda bahkan sejak sebelum nation ini bernama Indonesia. Perlu kita ketahui bahwa karena asyik dan terlalu mudahnya kita berlomba mencari perbedaan maka gesekan antarkelompok jadi mudah tersulut. Kita seolah lupa – atau melupakan – bahwa sejatinya kehidupan di Indonesia adalah potongan-potongan gambar yang ditakdirkan beragam dalam rahim. Kita kini menjadi seolah takjub saat menemukan hal yang tidak serupa, semahzab, seiman, sealiran, dengan yang ada pada diri atau kelompok kita.

Seperti halnya ketika bermain 10 Perbedaan. Di gambar “A” menampilkan lansekap sebuah desa, bergunung biru, bersawah hijau, dan ada pak petani berbaju merah. Di gambar “B” adalah lansekap yang sama hanya saja pak petani berbaju hitam. Masyarakat kelompok “A” yang gemar mencari pembenaran atas perbedaan merasa benar atas statusnya bahwa petani haruslah berbaju merah. Sementara masyarakat “B” juga tidak ingin dianggap bersalah karena pak petaninya berbaju hitam. Mereka merasa saling benar. Merasa saling merasa nggenah kalau di satu sisi judul permainan itu adalah “Carilah 10 Perbedaan A dari B” dan “Carilah 10 Perbedaan B dari A” di sisi lain.

Mindset 10 Perbedaan hanyalah menekan kita untuk mencari pertidaksamaan. Sementara kita melupakan bahwa dari pertidaksamaan itu ada persamaan yang jauh lebih luas. Kita telah melupakan persamaan. Terlalu terkonsentrasi pada pakaian si petani dan melupakan warna gunung, warna sawah, arah aliran sungai, jumlah bintang-bintang yang membentuk gambar itu seutuhnya. Kita meninggalkan persamaan karena mencari persamaan itu tidak asyik, tidak menantang, dan jika dilombakan tidak akan ada yang berusaha untuk menang.

Ya, mencari persamaan itu tidak memunculkan gairah berapi-api, alih-alih: kelompok berbaju merah duduk bersama kelompok berbaju hitam di sebuah kedai, memesan secangkir kopi, sambil memandang gugusan gunung, sawah, bintang dan komponen-komponen lain yang sama-sama mereka jumpai di alam A dan B. Dalam tahapan selanjutnya, si Merah dan si Hitam membakar kretek, memandangi satu sama lain, lalu menangis. Keduanya trenyuh karena melihat unsur A di dalam B, dan unsur B di dalam A. Bagaimana mungkin selama ini saat mencari pertidaksamaan mereka sebenarnya telah menyakiti diri sendiri?

Bagaimana mungkin?

*** 

(kredit foto dari www.1mobile.co.id)

Selasa, 04 Agustus 2015

Sakral - Banal dalam Dieng Culture Festival


Merayakan waktu-waktu penting dalam kehidupan memang tak terlepas dari hal yang bersifat sakral dan banal. Sakral dalam hal ketika moment-moment peringatan itu terasa kudus, berliturgi, dan hening. Banal karena dalam fase sebelum atau sesudah kesakralan itu ada penghiburan, hedonisme, dan hingar-bingar yang jamak dilakukan.

Kedua fase itu juga ditemukan dalam Dieng Culture Festival (DCF) ke enam. Saat matahari sudah akan redup pada akhir Juli, di simpang tiga homestay Bu Jono, para pemuda berjaket dan ber-carrier mulai berdatangan. Kebanyakan dari Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya. Sebagaimana agenda tahun sebelumnya, DCF 2015 masih paduan antara jazz, lampion dan ruwatan.

Dua kegiatan di awal adalah pengelolaan kebanalan berestetika yang mau tidak mau adalah daya tarik paling besar bagi mayoritas pendatang DCF. Malam hari tanggal 1 August saat ribuan lampion diudarakan saja, jalanan di simpang tiga arah candi-Wonosobo-Banjarnegara banjir lautan manusia. Ruas jalan padat. Rasanya, itu adalah moment saat orang Jakarta berhasil memasarkan macet dan bahasa 'Lo', 'Gue', ke tengah masyarakat Ngapak.

Dari rata-rata usia pengunjung yang remaja-dewasa memang menjadikan kebanalan ini sesuatu yang melebihi keheningan Dieng itu sendiri. Bahwasanya DCF adalah tentang jazz dan kelap-kelip lampion di ketinggian 2000 mdpl. Bahwa DCF adalah merayakan selfie di kepungan sunrise Sikunir atau Telaga Warna. Hal-hal yang sangat populer saat ini. Kehingar-bingaran ini tidak bisa dipungkiri justru adalah bagian dari usaha memasarkan kebudayaan dan kesakralan Dieng.

*

Inti yang sakral dari DCF adalah ruwatan anak bajang. Anak lelaki atau perempuan berambut gimbal yang legendanya adalah keturunan Kyai Kaladate, leluhur orang Dieng. Anak-anak ini - harus atas permintaan sendiri - akan diruwat sebelum dipotong rambutnya yang dipercaya akan menjauhkan mereka dari makhluk gaib.

Sebelum dicukur di komplek Candi Arjuna keinginan anak bajang ini mutlak harus dipenuhi orang tuanya. Mau mobil 10 buah atau sapi 20 ekor mau tidak mau harus diusahakan. Hanya saja, pemenuhan materi tersebut bisa dialihkan. Mobil bisa diganti mobil mainan. Begitu juga sapi atau yang lainnya. Artifisial. Benda buatan yang menyerupai aslinya sebagai syarat agar anak bajang bersedia dicukur.

Hal-hal yang membutuhkan kekhidmatan dan serangkaian prosesi tradisi memang tidak terlalu lentur diikuti. Saat prosesi potong rambutpun tongsis tidak diperkenankan. Tidak boleh berisik. Ruang ekspresi menciut. Kesakralan bisa terasa menjemukan bagi mereka yang terbiasa aktif. Terlebih tidak mengetahui nilai dalam prosesi yang hening.

Namun, seperti yang dikatakan oleh pemilik penginapan tempat saya menginap, bahwa inti dari semua kegiatan ini adalah ruwatan. Bukan pesta lampion yang bisa ditemukan di tempat lain. Atau mungkin jazz di Bromo. Tetapi pemotongan rambut gimbal. Tradisi sakral yang tidak ada di tempat manapun selain Dieng.

Senada dengan yang disampaikan saat tauziah pembukaan DCF. Sang kyai banyak membahas Nusantara - dan tentu mengerucut ke tanah para dewa itu. Dieng adalah 'gunung kosmis' di tanah Jawa. Kepercayaan animisme dan Hindu sangat kental. Sampai era Islam masuk dan mengakulturasi kebudayaan asli. Sekilas saja dapat kita ketahui bahwa kyai tidak akan membahas soal selfie atau jazz. Dari tauziah itu ada hal yang lebih tinggi nilainya dari kebanalan yang riuh. Bahwa Dieng adalah kesakralan, sejarah, dan leluhur para orang Jawa.

*

Ekspresi banal dan sakral memang susah dipisahkan. Dalam taraf wajar kebanalan adalah media yang memberi kesempatan untuk menghibur diri dan melumerkan kesakralan yang kaku, religius, dan khidmat. Keduanya bertahan karena kebudayaan manusia menghendakinya demikian. Kita butuh keceriaan pesta tanpa harus meringkuk gamang setelah pesta itu usai.

Rabu, 22 Juli 2015

Jagongan Kebudayaan


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian 'Kebudayaan' secara antropologis adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Di dalam KBBI, kata 'Kebudayaan' pun memiliki klasifikasi penjelasan yang lebih luas, seperti Kebudayaan Barat, Kebudayaan Agraris, dan sebagainya.

Sebagai hasil karya cipta, rasa, karsa, dan pengetahuan, kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari manusia itu sendiri. Tidak mungkin kebudayaan muncul tanpa adanya ijtihad dan keinginan manusia. Fungsi kebudayaan, menurut saya, adalah usaha agar hal-hal yang dianggap memiliki nilai - materiil atau spiritual - dapat dilegalkan sebagai salah satu kepribadian dan ciri khas suatu kelompok. Budaya tersebut untuk selanjutnya disepakati bersama sebagai instrumen untuk mempertahankan ide, nilai-nilai, maupun cita rasa dari hal-hal dari luar.

Dalam perjalanannya kebudayaan suatu kelompok tentu akan berhadapan dengan kebudayaan lain di luar kelompoknya. Contoh sederhana saja, kalau orang Indonesia pergi ke Jepang tentu akan berhadapan dengan sake, kimono, sampai geisha. Orang Jawa yang biasa makan pecel tentu sedikit canggung ketika pertama kali makan susshi. Sebaliknya, orang Tokyo mungkin akan stres mengetahui betapa tidak on time-nya orang Jakarta saat meeting. Culture shock biasa dialami ketika seseorang yang belum terbiasa hidup di luar teritorinya tiba-tiba dihadapkan dengan gempuran nilai-nilai asing terhadapnya.

Dalam pergumulan budaya ini orang biasa menilai kebudayaan siapa yang lebih nyaman atau unggul. Orang Amerika bisa saja tergelitik geli melihat budaya orang Jawa yang cenderung 'malas', gemar mistis dan gampang kagum. Orang Barat yang adalah kakek buyut Revolusi Industri tidak mengenal Sabdo Palon, primbon, dan sikap sumarah. Bagi orang Barat, rasio itu penting dan waktu adalah kejar-mengejar antara penghasilan dan pemenuhan kebutuhan. Sementara bagi orang Jawa spiritualitas dan batin juga harus diolah, sambil terus bekerja.

Pencapaian setiap kebudayaan jelas berbeda. Bagi orang Jepang pencapaian seni senjata adalah samurai. Bagi orang Yogyakarta jelas adalah keris Kyai Kopek. Pencapaian kebudayaan orang Papua adalah honai, sementara bagi orang Eskimo adalah iglo. Pencapaian ini belum bisa digunakan untuk mengukur dan menentukan apakah samurai lebih unggul dari keris. Apakah budaya sweeter bulu dan kacamata rayben lebih baik daripada koteka.

Yang menjadi anggapan saat ini bahwa budaya si A lebih baik dari si B hanyalah konspirasi global terhadap norma-norma umum dunia modern, seperti cara berbusana, tingkat edukasi, maupun strata kelompoknya dalam piramida ekonomi.

Sementara itu, perbedaan pencapaian kebudayaan dilihat darimana kultur itu tumbuh. Kapan dan bagaimana kondisi setempat. Kadangkala, kita sering terkecoh dan merasa pencapaian budaya kita lebih unggul dari masyarakat yang tidak terjangkau televisi. Parameter kita antara lain jangkauan informasi yang kita terima lebih banyak karena kita punya internet dan karena - dalam situasi tertentu - kita berpakaian lebih modern. Padahal, pencapaian kebudayaan juga menyangkut tata kelola sosial, karakter, bahkan remeh temeh urusan rumah tangga. Dalam satu kasus yang sama, seorang bersweeter bulu belum tentu semahir seorang berjarik dalam urusan ngemong bayi menangis.

*

Karena kebudayaan adalah manusia itu sendiri, maka tidak akan elok jika membandingkan superioritas budaya yang satu dengan yang lain. Di Indonesia sendiri, jauh sebelum globalisasi merobohkan batas-batas, kita telah mengenal akulturasi dan sinkretisme budaya. Bahkan dalam edukasi beragama yang dilakukan oleh Wali Songo saat meng-Islamkan tanah Jawa.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang kaya. Primordialitas yang kita miliki hendaknya adalah media yang baik untuk penyelenggaraan kebudayaan nasional yang akan menjadi sumbangan bagi kebudayaan dunia. Bukankah lebih penting kebudayaan Indonesia di mata internasional ketimbang kebudayaan yang terkotak-kotak?

Sambil berharap bahwa penelitian Stephen Hawking terhadap kemungkinan kebudayaan makhluk astral di planet luar menemui hal yang menggembirakan. Mungkin nanti akan tiba masanya: Kebudayaan Semesta.

* * *

p.s.: Danke, Kak Ruth. Teman berbalas twit yang asyik.

Senin, 06 Juli 2015

Cukupkah Iman?



"Kak, iman itu apa?"
"Iman itu telanjang, Dek."
"Lho, kok telanjang? Kalau masih telanjang kan ga boleh keluar rumah, Kak?"
"Nah, makanya itu. Iman saja ndak cukup, Dek."

*

Iman itu telanjang. Tidak berbusana dan tanpa tedeng aling-aling. Telanjang itu bentuk pengakuan. Seorang beriman adalah yang menyerahkan dirinya untuk ditawan tanpa pernah memiliki praduga atau kecurigaan terhadap yang diberi penyerahan.

Tetapi apakah iman saja cukup?

Manusia itu hidup dan berhadapan dengan beragam nilai dalam hidupnya. Sudah pasti dan dapat dipastikan bahwa nilai, budaya, maupun karakter yang akan ditemui tidak selalu sama. Orang yang telanjang tidak mungkin langsung begitu saja menceburkan diri dalam lautan nilai-nilai itu. Karena satu yang sudah menjadi kesepakatan hampir di seluruh belahan dunia: Orang yang telanjang itu dianggap nggak waras. Gila. Abnormal dan abstain dari nilai-nilai kesopanan yang ada di masyarakat.

Begitupun keimanan. Kalau ia tidak diberikan busana, maka ia tidak punya bekal. Tidak dapat bergaul. Maka berikanlah ia pakaian. Namanya takwa. Takwa itu menjalankan yang Tuhan kehendaki sekaligus menjauhi yang Dia tidak perkenankan. Busana takwa itu akan menjadi pegangan dalam berlaku, bersikap, dan menilai baik-buruk sesuatunya. Semakin bagus dan arif ketakwaannya, tentu semakin bagus pakaian yang membalut tubuhnya.

Tetapi apakah iman dan takwa sudah cukup?

Manusia itu cenderung bermegah-megah. Cenderung alpa saat sudah berada di atas. Terkadang, kalau pakaiannya sudah parlente, jadi merasa lebih baik dari yang pakaiannya masih kaos oblong. Yang bagus-bagus di dunia, belum tentu yang apik-apik di hadapan Tuhan. Karena itu manusia perlu diingatkan. Perlu diberi aksesoris di tubuhnya agar mereka ingat. Eling kalau kudu lebih banyak menahan diri. Aksesoris itu namanya rasa malu.

Orang beriman dan bertakwa harus punya malu agar bisa mengendalikan dan menahan diri dari sikap berlebihan. Karena sebenarnya yang namanya ibadah itu: Shalat, puasa, zakat, sedekah atau tersenyum itu urusan yang gampang sekali. Yang susah itu merasa ibadahnya tidak lebih baik dari orang lain. 




Jumat, 03 Juli 2015

"Tenang, Hidup itu Pilihan, Bro." | Oh, Ndasmu


Hidup adalah pilihan. Begitu kalimat klasik yang sudah sangat familiar kita dengar. Mengetahui bahwa sederhananya hidup itu adalah tentang keberpihakan membuat kita juga (seolah) ringan saja mengucapkan: "Tenang, hidup itu soal pilihan, Bro" ketika kita juga (seolah) tahu imbas keputusan seseorang untuk memilih hal yang nanti akan mengikatnya.

Tapi, apakah benar semudah itu berujar: "Hidup adalah pilihan"?

*

Sesaat setelah kita pertama kali dilahirkan, kita telah dengan tanpa sadar mengikatkan diri pada nilai, norma, budaya maupun agama yang kelak akan membentuk karakter dan kepribadian kita.

Seorang Zaelani terlahir dalam keluarga muslim yang taat. Sejak usia 7 tahun ia dibiasakan pergi ke masjid, sholat 5 kali sehari, pun berpuasa Ramadhan. Berbeda dengan Caroline yang sejak usia yang sama rajin diajak kebaktian di katedral, berpuasa sebelum Paskah, atau merayakan Natal setiap Desember. Keduanya terikat oleh pilihan yang dipilihkan oleh lingkaran lingkungan paling kecil: Keluarga.

Dengan doktrin yang sejak dini ditanamkan, kita dapat menduga bahwa ketika mereka dewasa nilai-nilai akan membentuk Zaelani menjadi figur lelaki muslim dan Caroline seorang Katolik. Pada suatu momentum yang menjungkalkan paradigma, belakangan kita tahu bahwa Zaelani secara sembunyi-sembunyi mengagumi Buddhisme. Di lain pihak, Caroline tertarik dengan konsep kerasulan Muhammad SAW. Saat itu keduanya berumur 18 tahun. Saat itu secara usia dan hukum keduanya memiliki kebebasan untuk memilih.

*

Menjadi berbeda karena pilihan tidak dapat selalu dikatakan mudah. Terlebih benturan dengan lingkungan yang memilihkan kita pada pilihan-pilihan saat kita belum mandiri dan bebas memilih. Bahkan, dalam tingkat ekstrim, kemandirian memilih memberi konsekuensi tidak mengenakkan. Beberapa diusir, dihilangkan, atau dikebiri haknya.

Setelah peristiwa berdarah komunisme dekade '60-an kita ketahui bahwa ada marjinalisasi kepada mereka yang masih "berbau" golongan kiri. Dekade '90-an Tempo dibredel karena memilih jalan yang terlalu berani dalam rezim Orde Baru. Dan awal 2000-an hampir seluruh mata dunia menstigma muslim sebagai teroris.

Memilih itu belum menjadikan kita sepenuhnya damai. Belum membuat hidup terasa ringan seperti jargon "Hidup adalah pilihan", karena mereka masih dihantui rasa cemas. Masih dihinggapi perasaan ditolak dari beragam perspektif dan persepsi. Terlebih bila apa yang kita pilih itu menjadikan kita berada dalam kelompok minoritas atau group yang kurang populer.

Seyogyanya, ketika seseorang / sekelompok orang menilai adanya perubahan dalam diri orang lain dengan berkata: "Biarinlah, hidup itu pilihan, kok",  haruslah dibarengi kesadaran nyata bahwa mereka tidak akan mencibir di balik punggung. Terlebih melakukan tindakan yang - dengan parameter nilai kebaikan apapun - dapat membuat mereka harus memilih jalur cepat ke pintu neraka.

***

Minggu, 14 Juni 2015

Masyarakat yang Capek

Beberapa waktu yang lalu pernah timbul dalam pikiran saya tentang tayangan tidak bermutu yang hampir setiap hari datang dan menjejali layar televisi kita. Bagaimana mungkin, jika kita sedikit 'waras', tayangan lebay dan penuh bumbu drama bisa menjadi tayangan yang hampir selalu dinanti jam tayangnya? Apakah sudah tidak ada pilihan lain, sehingga pada jam prime time, orang sibuk  membeli mimpi dan pembenaran dari tayangan itu?

*

Melihat tayangan televisi yang tidak berbobot dan bernilai edukasi rendah, seperti kebanyakan acara mistis, sinetron, atau kontes adu bakat, rasanya seperti memakan junk food. Puas sesaat tapi tidak bernilai gizi memadai. Jika dicari bandingannya, para penikmat televisi dengan standard kualitas tertentu akan memilih, misalnya, National Geographic atau serial yang - setidaknya - lebih kuat dalam tema dan sinematografi. Kebanyakan, tentu saja, produksi luar negeri dan berbayar. Atau, jika bukan penikmat televisi, orang dengan standard tertentu lebih senang bepergian ke bioskop atau teater untuk mencari nilai yang dapat memuaskan pengetahuannya.

Sayangnya, tidak semua masyarakat memiliki cukup sumber daya untuk menjadi bagian dari masyarakat berstandard tersebut. Tidak setiap orang mampu untuk setidaknya 3 kali seminggu datang ke bioskop XXI atau membeli tayangan berbayar semacam History Channel dan National Geographic. Dan, akan sangat merepotkan jika untuk sekedar terhibur harus dengan cara yang mahal dan ribet. Mau senang kok susah?

Ketidaksamaan sumber daya inilah yang kemudian membuat sebagian besar masyarakat menghibur dirinya dengan tayangan televisi tadi. Soal value dan knowledge bisa didiskusikan belakangan. Hiburan dan bahan untuk cerita dikedepankan. Para petinggi media dan pengusaha hiburan pun memberi restu. Artis dipermak sedemikian rupa. Skenario dan konflik-konflik direncanakan. Berilah mereka mimpi dan biarkanlah 'merasa' seolah menjadi bagian dari panggung drama itu. Dan, boom! Kita tinggal membicarakan rating.

*

Kita masyarakat yang lelah. Capek. Dalam keseharian kita sudah dibebani dengan pekerjaan, mengurus rumah tangga, kemacetan, penghasilan kurang memadai untuk hidup di kota super kompetitif, sanitasi buruk, atau urusan-urusan besar dan tidak sesuai kapasitas untuk menyelesaikannya yang mau tidak mau datang dan hinggap, seperti: fluktuasi harga pasar, korupsi menteri, sampai nuklir Iran. Capek, kan? Terlebih kalau kebetulan orang yang merasakan itu adalah masyarakat menengah ke bawah.

Jika beban-beban itu diangkat dari pundak mereka, tentu pemilihan hiburan dan kesenangan juga akan berubah. Akan tumbuh kesadaran dan standard baru bagi mereka. Seterusnya tentu masyarakat akan membagi mana golongan primer dan mana yang sekunder.

Masyarakat butuh kesenangan-kesenangan kecil. Butuh jeda agar stres yang terlanjur mengikat otak mereka dapat dikendurkan sejenak. Tayangan televisi kita memberi peluang itu. Sebenarnya, jikalau sanggup, tidak akan ada yang tidak ingin mendapat tayangan yang jauh lebih variatif dan berbobot. Tidak ada yang menolak untuk datang ke bioskop atau membeli sepaket buku literatur berskala internasional agar cakrawala mereka terbentang seluas mungkin. Hanya saja, belum untuk saat ini. Biarkan kami - untuk hari ini - terhibur oleh Ganteng-Ganteng Serigala atau dangdut Saipul Jamil.

***

Senin, 01 Juni 2015

Maha Paradoks dan Himpunan-Himpunan


Karena hidup adalah neraca yang luar biasa besar, dengan tata kelola akuntansi individu yang rahasia, maka heningkanlah paradoks yang Tuhan berikan. Dia adalah Sang Maha Paradoks. Dia menciptakan,  memelihara, namun menganjurkan kita untuk menjauhi hal-hal yang hari ini menjadikan kita harus memihak kepada A atau B. Dengan menjadi bagian dari salah satu himpunan itu kita, tiba-tiba, dengan skala kecil maupun besar, seolah memiliki kekuatan bahwa himpunan dan populasi di dalam golongankulah yang berlabel Benar.

*

Orang yang ingin menghilangkan prostitusi dengan segala bentuk dan transformasinya akan mengatakan bahwa tidak ada yang halal dari tindakan asusila dan amoral itu. Tidak ada pembenaran dalam hal memperdagangkan seluruh aurat dan rasa malu kepada orang yang bahkan sebelumnya kita tak pernah tahu eksistensinya. Di luar himpunan itu, pihak yang memiliki frame berbeda soal pelacuran, belum tentu sependapat dengan gagasan para idealis bermoral tersebut. Coba tanya saja Rendra dan para Pelacur Kota Jakartanya.

Apakah prostitusi salah?
Ataukah prostitusi belum tentu salah?

Sejarah prostitusi adalah sejarah manusia. Dia lebih tua dari zaman Masehi. Dalam sejarah, aturan moral, sampai agama, dijelaskan bahwa tindakan asusila itu cacat. Harus dihapus, atau paling tidak dihindari. Namun, apa yang terjadi? Bahwa warisan sejarah umat manusia itu hari ini masih tetap berdenyut. Masih punya tempat di sudut remang. Masih bisa beradaptasi dengan zaman postmodern.

Mengapa prostitusi tidak (mungkin) bisa hilang? Sementara tak kurang berbagai aturan moral telah dicetak?

Motif memang selalu menjadi alasan yang tidak bisa lenyap bagaimanapun abad harus berganti. Individu pun punya kehendak. Yang menjadi pertanyaan dan pengandaiannya: Jika ada motif yang mengharuskan seseorang diberi pilihan menjadi seorang pelacur, namun ternyata ia tidak menggunakan kehendaknya untuk memilih jalur itu, dan ini menjadi fenomena komunal dengan motif yang beragam, apakah kita bisa menjamin bahwa prostitusi akan lenyap dari bumi? Dan lantas dengan demikian membuat semua manusia – dalam masalah prostitusi – masuk ke dalam himpunan yang satu?

*

31 Mei 2015. Saat itu time line Twitter ramai membahas tagar #WorldNoTobaccoDay. Hari Anti Tembakau Dunia. Sudah pasti 90% ini akan menjurus pada anjuran untuk tidak merokok. Menciptakan hak udara bersih, lalu bla bla bla ilustrasi, grafik-grafik bahaya kematian karena rokok disuguhkan.

Apakah perokok salah?
Ataukah perokok belum tentu bersalah?

Para perokok sudah pasti salah, menurut himpunan orang anti rokok. Merokok tidak bersalah, menurut himpunan kaum pengasap. Keduanya duel. Siapa yang menang?

Di luar kedua himpunan itu, tanaman tembakau yang adalah nukleus rokok, tumbuh lestari di Indonesia. Jutaan buruh pabrik kretek sampai filter dapurnya mengepul karena industri internasional ini. Para kapitalis pasar meraup untung dari Marlboro, Sampoerna, sampai Tali Jagad. Ribuan aktivis anti rokok dan pakar kesehatan mendapat tempat dalam dunia perbukuan maupun pembicara seminar.

Jadi, tembakau itu benar atau salah?

*

Paradoks, saling bertolak belakang, inilah bagian dari pertaruhan kita sehari-hari. Kita adalah neraca yang sebenarnya ingin mendapat timbangan lebih baik di sisi kebaikan. Apakah dengan menjadi himpunan A, Dia akan memberi tempat bagi kita di sisi-Nya? Ataukah himpunan B, yang sudah pasti akan Dia jebloskan ke penjara panas di dasar bumi?

Bukankah jika Dia berkehendak maka bisa saja seluruh bentuk prostitusi dan tembakau itu Dia lenyapkan seperti ketika murkanya menenggelamkan kaum kafir Nabi Nuh? Bukankah jika Dia mau maka tidak akan ada himpunan A, B, atau Z?

Tapi Dia dengan segala kebijakan-Nya tidak nggebyah uyah makhluknya. Dia mewajibkan para khalifah di bumi beribadah, tapi sekaligus tidak melarang setan, iblis, dan Dajjal mengusik dzikir mereka. Dia konon menitipkan benih kanker dalam rokok, tapi Dia tetap memelihara tembakau. Dan Dia mengharamkan lelaki berzinah mata, namun Dia tidak berhenti menciptakan perempuan cantik.

Paradoks ini akan terus ada. Dan suka atau tidak himpunan-himpunan itu akan tetap berduel. Tetap merasa menjadi benar. Tetap berusaha mengatur siasat akuntansinya agar sisi Debit lebih besar dari Kredit. Sementara itu, di atas firdaus sana, Dia mungkin sedang senyam-senyum melihat guyonan kehidupan ini.

* * *

Ditulis pada hari hujan pertama di bulan Juni. Kredit foto dari akaldankehendak.com