Senin, 06 Juli 2015

Cukupkah Iman?



"Kak, iman itu apa?"
"Iman itu telanjang, Dek."
"Lho, kok telanjang? Kalau masih telanjang kan ga boleh keluar rumah, Kak?"
"Nah, makanya itu. Iman saja ndak cukup, Dek."

*

Iman itu telanjang. Tidak berbusana dan tanpa tedeng aling-aling. Telanjang itu bentuk pengakuan. Seorang beriman adalah yang menyerahkan dirinya untuk ditawan tanpa pernah memiliki praduga atau kecurigaan terhadap yang diberi penyerahan.

Tetapi apakah iman saja cukup?

Manusia itu hidup dan berhadapan dengan beragam nilai dalam hidupnya. Sudah pasti dan dapat dipastikan bahwa nilai, budaya, maupun karakter yang akan ditemui tidak selalu sama. Orang yang telanjang tidak mungkin langsung begitu saja menceburkan diri dalam lautan nilai-nilai itu. Karena satu yang sudah menjadi kesepakatan hampir di seluruh belahan dunia: Orang yang telanjang itu dianggap nggak waras. Gila. Abnormal dan abstain dari nilai-nilai kesopanan yang ada di masyarakat.

Begitupun keimanan. Kalau ia tidak diberikan busana, maka ia tidak punya bekal. Tidak dapat bergaul. Maka berikanlah ia pakaian. Namanya takwa. Takwa itu menjalankan yang Tuhan kehendaki sekaligus menjauhi yang Dia tidak perkenankan. Busana takwa itu akan menjadi pegangan dalam berlaku, bersikap, dan menilai baik-buruk sesuatunya. Semakin bagus dan arif ketakwaannya, tentu semakin bagus pakaian yang membalut tubuhnya.

Tetapi apakah iman dan takwa sudah cukup?

Manusia itu cenderung bermegah-megah. Cenderung alpa saat sudah berada di atas. Terkadang, kalau pakaiannya sudah parlente, jadi merasa lebih baik dari yang pakaiannya masih kaos oblong. Yang bagus-bagus di dunia, belum tentu yang apik-apik di hadapan Tuhan. Karena itu manusia perlu diingatkan. Perlu diberi aksesoris di tubuhnya agar mereka ingat. Eling kalau kudu lebih banyak menahan diri. Aksesoris itu namanya rasa malu.

Orang beriman dan bertakwa harus punya malu agar bisa mengendalikan dan menahan diri dari sikap berlebihan. Karena sebenarnya yang namanya ibadah itu: Shalat, puasa, zakat, sedekah atau tersenyum itu urusan yang gampang sekali. Yang susah itu merasa ibadahnya tidak lebih baik dari orang lain. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar