Rabu, 06 Mei 2015

Longing




Bagaimana relasi sebenarnya antara Manusia dengan Tuhan itu? Ketika Tuhan menciptakan sesuatu sehingga ia bernama Ada, apakah Manusia itu tahu dan mengerti bagaimana Penciptanya?

Manusia berada dalam kebutaan sekaligus kerinduan yang nyata tentang Tuhannya. Tentang dzat yg memberi ruh dan kesempatan. Kepada apa / siapa Manusia melabuhkan kangen itu? Bagaimana manifestasi meluruhkan rindu yg bergulung itu?

Sementara Dia, dzat yang Maha itu, memberi mereka kasih sayang terus-menerus. Menganugerahi rasa, asa, nyawa kepada mereka yang hanya tanah itu. Dengan apa Manusia ini membalas? Kangen kami adalah kesadaran kelemahan kami yang ingin memandang jagad tapi pandangannya terbatas.

Jangankan memandang jagad, sekedar rasa ingin tahupun, kami tak berdaya. Lihatlah Musa. Ia yang kelas wahid pun tak kuasa. Lantas dengan apa kangen itu tertuntaskan, Tuhan?

Ah, mungkin kami yang khilaf. Terlalu merujuk rupa. Tak ingat intinya. Hakikatnya.

Karena kami dibesarkan dalam konteks ada yang kasat mata. Yang fisik. Yang dapat diraba. Lupa bahwa Ada tak selalu yang berdimensi. Ada juga tentang yang Tiada. Karenanya, kangen kami mudah putus kala berhadapan dengan yang fisik. Sementara Engkau berbeda.

Tentang itupun kami bahkan harus bersilang pendapat.

Kami ramai mengira Engkau dari Arab, Mesir, Babilon. Tak kurang seribu zaman kami bertikai. Tapi itulah kangen kami kepadaMu yang Maha Satu. Manusia terlalu sibuk mengeksklusifkan, sementara tanpa disadari Dia ada untuk semesta alam. Dia ada untuk semua umat. Kamilah yang terlalu naif.

Relasi kami denganMu kadang putus karena kecerobohan kami. Kami mengira Engkau telah tiada. Sementara Engkau bahkan lebih dekat dari nadi kami.

Ah, Tuhan, diantara semua ini, aku teringat Sapardi: "MencintaiMu, harus menjelma aku..."


Senin, 13 April 2015

NOL




Ini hari hujan. Bau humus basahnya memuar. Wangi. Tetes-tetes malaikat kecil berlomba-lomba menjatuhkan diri dari karung mendung kembali ke pelukan bumi. Ke pelukan asal. Ke sebermula. Kembali kepada Nol.

Nol, bukan saja soal bilangan yang ditemukan kali pertama oleh ahli matematika Arabia lalu dikembangkan oleh bangsa Barat ke dalam khasanah perhitungan dan rumus. Lebih dari itu, Nol adalah tentang awal dan akhir. Nol adalah ada yang juga tiada. Nol adalah milestone sebelum ide, sejarah, atau jejak langkah menapak ke angka 100, ke 1000, ke 1.000.000.

Nol dalam alam semesta adalah Tuhan. Dzat yang sudah ada sebelum yang bernama “ada” itu ada. Dzat yang menciptakan angka 1 sebagai jumlah dari bintang bernama Matahari. Arsitek Agung yang membisikkan angka 6.630 – 120.700 km kepada para astronom sebagai rentangan Cincin Saturnus di atas atmosfernya. Tuhan adalah bilangan tunggal, tak terhingga, sekaligus tak terbagi.  

Kulihat, hari ini, engkau telah menempuh ribuan kilometer. Tapi, sejauh apa engkau berlari, setinggi apa mendaki, sudahkah engkau bertemu Nol-mu? Tentu kau ingat The Beatles, kan? Merekalah yang telah bertemu dengan Nol-nya. John, Paul, George, dan Ringo memilih pulang kepada Nol saat bercerai di akhir ’60-an. Mereka mengubur jutaan recording, ratusan pesta, dan gelar yang lebih ngetrend ketimbang Yesus, lalu kembali kepada yang sebermula. Ya, kurasa Nol bagi John, George, Paul dan Ringo adalah freedom ego yang selama ini terpenjara oleh sebuah icon bernama Beatles.

Tanpa John, Paul, George, dan Ringo, The Beatles menjadi suwung. Rest in peace. Seperti air yang ditinggalkan oleh zat cairnya saat menguap. Seperti uap yang ditinggalkan sifat gasnya ketika terkondensasi menjadi hujan. Seperti raga yang hampa saat ruhnya mati. Nol, juga adalah tentang pulang.

Nah, engkau, sudahkah kembali kepada Nol-mu?



Senin, 23 Maret 2015

The Invicible Hands: Pergeseran Nilai Sakral-Historis dan Kapitalis Modern



Globalisasi selain mengaburkan batas-batas geografis, budaya, dan bahasa juga telah menggeser pandangan sakral-historis terhadap produk kejadian masa lampau. Pergeseran ini dapat kita lihat dari bagaimana melihat peristiwa atau produk sakral-historis menjadi komoditas konsumsi yang menjanjikan di masa kini. Timbulnya pasar, penjual, pembeli dan alat tukar terhadap produk sakral historis itu pelan-pelan telah mengaburkan – dan di lain pihak menuntut ketebalan pemaknaan intelektual bahkan iman – pemaknaan sejatinya.
 

*


Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia – belum lagi kemajemukan lainnya yang campur sari – menjadi kasus menarik dalam hal perayaan Valentine’s Day. Sudah bukan rahasia lagi jika menjelang 14 Februari, ramai kasak kusuk tentang haram-halal perayaan ini. Beberapa ormas muslim ada yang jelas melarang bahkan mengharamkan muslim untuk merayakan Hari Kasih Sayang itu. Faktor utamanya, selain karena tak ada dalam syariah dan budaya Islam, Valentine’s Day merupakan produk historis umat Nasrani (atau pagan kuno?). Simbolisme Valentine yang berpeyorasi dan identik dengan seks bebas itu tentu dikhawatirkan menjadi gelombang persoalan moral masyarakat. Sementara agama jelas adalah instrumen untuk mengatur perilaku dan moral para penganutnya.

Beberapa muslim lain, yang lebih liberal, menganggap perayaan itu tak harus menjadi paranoia umat muslim atau pemerintah sehingga tidak perlu dilarang. Mengenai kekhawatiran free sex ditanggapi oleh golongan ini bahwa dalam satu tahun terdapat 365 hari. Dalam hari-hari itu potensi free sex bisa terjadi kapan saja. Mengapa berparanoia terhadap tanggal 14 Februari saja? Belum lagi, persepsi perayaan Valentine bisa beragam. Tidak melulu dikaitkan dengan urusan syahwat kelamin atau akidah.

Dikotomi pendapat ini menjadi menarik karena di satu sisi ada muslim yang ingin menegakkan akidah serta memurnikan Islam, dan di seberang jalan ada muslim yang memandang konteks Valentine’s Day bukan sebagai ancaman terhadap akidah karena yang harus dilihat adalah bagaimana niat (hal yang imajiner) masing-masing individu itu. Selayaknya, jika seorang muslim keimanannya kuat tentu tak perlu takut akidahnya goyah hanya karena Valentine. Pengkutuban ini kemudian semakin melebar karena adanya isu-isu yang sebenarnya adalah produk Islam itu sendiri, antara lain politik khilafah, Sunni-Syiah, atau pun penafsiran Al Quran.

Kendati demikian, toh masyarakat tetap ada yang merayakan Valentine tanpa melibatkan faith or history. Dikatakan demikian karena penyajian dan penyampaiannya bergeser dalam wujud materi (coklat atau kembang). Tidak menuntut upacara peribadatan kepada Santo Valentine atau semacamnya.

 




Hal yang tak berbeda jauh dari perdebatan adalah hijab (busana penutup tubuh). Konsep hijab syar’i yang banyak berkembang di kalangan muslimah konservatif dipandang memiliki rujukan yang telah sesuai dengan tatanan syariah Islam. Sebagaimana yang dimaksud hijab adalah busana yang menutup aurat wanita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak menampakkan lekuk tubuh. Menutup dan bukan membungkus tubuh. Sederhana.

Sementara, di zaman modern saat ini, fenomena hijab telah berkembang dengan corak dan bentuk yang bagi sebagian muslimah (atau perempuan umumnya) tidak hanya sebagai penanda identitas seorang muslim, tetapi juga fashion, trend, dan bagian dari life style. Pengaruh trend hijabers ini bahkan mendapat pengakuan luas dari luar Indonesia. Dian Pelangi (desainer) bersama Barli dan Zaskia Sungkar telah sukses menggelar fashion show bertema hijab di New York beberapa waktu lalu. Kesuksesan di negara yang sedang sensitif dengan isu Islam itu tentu turut membawa mode hijab Indonesia menjadi salah satu rujukan konsumen di negara-negara lain. Sebelumnya, Dian juga telah membawa misi mempopulerkan hijab melalui film adaptasi novel Hanum Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa.

*


Sebagaimana hal-hal yang bersifat mendasar, seperti keimanan atau tinjauan historis sebuah peristiwa, masa telah menggeser pemaknaan Valentine’s Day dan fonemona hijab menjadi hal yang lebih mengarah konsumtif. Tak dapat dipungkiri bahwa daya tarik Valentine maupun hijab yang sakral menjadikan keduanya sebagai embel-embel pasar dalam memperlaris produknya. Kenyataan ini tidak terkhusus pada Valentine maupun pakaian hijab saja, peringatan keagamaan atau peristiwa sejarah lain pun tak lepas dari bagaimana pasar melihat potensi yang menjanjikan sebagai pengeruk keuntungan. 

Seminggu menjelang 14 Februari bisa kita saksikan bagaimana pasar gencar mempromosikan produk-produk berlabel Valentine, seperti coklat, pernak-pernik, film, sampai kartu ucapan. Terlepas dari sejarah Santo Valentine sendiri yang merupakan martir gereja yang tewas karena menikahkan prajurit Romawi (Kaisar Romawi sebelumnya melarang prajuritnya menikah karena akan menurunkan kualitas berperangnya). Tinjauan nilai historis yang sakral itu bergeser menjadi sebatas cara menyampaikan kasih sayang dengan mengirim coklat atau produk pasar lainnya. 

Begitu pula yang terjadi di kalangan muslim. Hijab, baik syar’i maupun hijabers, tidak lepas dari polesan pasar. Penggunaan hijab kadang belum diimbangi dengan pemahaman hakikat hijab itu sendiri. Keadaan demikian memunculkan selentingan tak sedap yang mengatakan seorang muslimah berhijab, tapi kelakuannya tidak sesuai tuntunan Islam. Anggapan hijab hanya sebatas model pakaian. Munculnya fenomena jilboobs. Walaupun muslim sendiri masih memberikan “toleransi” bahwa berhijab adalah proses dan hijab itu sendiri adalah kewajiban, yang dengan demikian tak lantas harus ditanggalkan saat muslimah belum sepenuhnya memahami hakikat hijab itu sendiri.

Diluar itu, kapitalis pasar telah membuat kita menyadari bahwa perayaan sakral-historis tak luput dari moment-moment konsumtif. Diskon besar-besaran sebelum Natal atau Idul Fitri, adalah contoh lain. Kapitalis tak kasat mata inilah yang menyadari sifat konsumtif masyarakat dan cerdik membaca peluang. Entah sejarawan akan bentrok pendapat mengenai Santo Valentine atau umat muslim ribut soal hijab punuk unta boleh atau tidak, itu adalah soal ke sekian. Bumi dan segala materinya adalah industri yang tak pernah berhenti beroperasi selama manusia ada. 

*


 



Perdebatan mengenai yang tampak di permukaan sebagai imbas dari produk pasar tadi adalah yang selama ini menjadi perhatian. Sementara, hakikatnya, bahwa sebelum pasar menemukan metode ampuh memasarkan coklat saat Valentine, atau sebelum muslim konservatif dan liberal meributkan trend hijab, telah tejadi hal lain yang jauh lebih bernilai. Hal ihwal bagaimana orang memutuskan menghormati Santo Valentine. Hal awal bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kepada muslimah untuk menjaga malu dan menutup auratnya.

Pasar dan komoditinya akan terus ada. Dengan keterbatasan kita belum bisa mencegah pasar berhenti berproduksi. Mengabur dan bergesernya batas-batas geografis, budaya, dan hal sakral-historis menuntut ketebalan pemaknaan intelektual bahkan iman. Mungkin dengan demikian, kita akan menyadari betapa yang diperdebatkan hanyalah akan menjadi pengisi waktu luang. Sementara the invicible hands terus bekerja dengan ampuh.

*** 



(credit foto dari telegraph.co.uk dan dancingczars.wordpress.com)

Senin, 23 Februari 2015

Pulang

Senja adalah tentang pulang. Perjalanan kembali ke rumah, ke muara, setelah mengolah pencarian dalam perjalanan. Pulang adalah bagaimana melaporkan dan menyerahkan apa yang telah kita terima. Dengan penyerahan itulah, rumah, muara, memberikan tempat buat kita berebah.

Senja di langitku takkan sama dengan senja di langitmu. Sebagaimana kilometer perjalanan dan derajad hidup kita yang berbeda. Di atapku, senja memuar merah seperti darah. Di tempatmu, senja adalah warna emas meleleh. Tapi itu tak berarti senja masing-masing kita lebih baik satu dari lainnya.

Hanyalah Dia, yang Maha Menilai, yang dapat menentukan apa yang akan kita terima di dalam rumah. Di dalam senja, orang hanya akan merasa trenyuh tanpa berkata-kata menyaksikan langit memudar dan nyalanya hilang. Mereka merayakan pulang tanpa kembang api dan sampanye. Tanpa hingar bingar atau upacara.

Karena kelak mereka pun akan menjadi senja. Kelak akan menempuh perjalanan dengan bertelanjang. Di dalam hidup ini, jika nyala pelita itu redup, kemanakah perginya nurnya? 

Tak lain ialah kepada ada yang tiada.

Selasa, 17 Februari 2015

Tentang: Jogjakarta dan Empat Gugusan

Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang Jakarta, begitu kata seniman Sudjiwo Tedjo. Bagiku pergi ke Jogja tidaklah untuk menertawakan siapa pun. Bagiku pergi ke Jogja adalah seperti kembali pulang.

*


Tahu kalian, apa yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan? Ialah ketika segala yang berdetak, berderak, meriak, itu berlomba-lomba ingin menceritakan kisahnya. Perjalanan ke Jogjakarta pada Jumat malam itu pun demikian. Dari seputar bus berangkat yang bikin bete karena ndak melakukan check up sebelum berangkat. Tidur di kursi bus dan terjepit. Tukang ojek Giwangan yang (ternyata) ndak seberapa hafal gang-gang di Kraton. Sampai keadaan naas harus mengalah kepada alam dan balik kucing dari gunung dengan kondisi mirip ayam dicelup di selokan. Perjalanan pada akhirnya adalah guyonan sehat tentang hal yang remeh sekalipun.


Perjalanan ke Jogja kali ini berfokus di daerah Kulon Progo. Ada beberapa spot yang menggelitik perhatian: Kalibiru, Waduk Sermo, dan – yang terpenting – Puncak Suroloyo. Setiba di Giwangan pukul 05:40, 14 Februari, saya mengontak Raga Transport (persewaan transportasi. Bisa di-invite pin BBM-nya 7E89A87B) sekiranya mereka bisa mengantar motor saya lebih awal dari jadwal sebelumnya pukul 10.00. Berhubung jam operasional dimulai pukul 08.00, jadilah saya memutuskan untuk reservasi dulu di hotel. 


Di situlah, saya bertemu Mas ini. Tukang ojek Giwangan. Dengan ongkos 30 ribu, Mas ini bersedia mengantarkan saya ke Ndalem Mantrigawen, tempat saya akan menginap. Alamatnya sebenarnya cukup dikenal. Di lingkungan Kraton. Jl. Mantrigawen Lor 15, tepatnya. Tapi, sebagaimana orang Malang yang bingung kalau mau mencari alamat di Sawojajar, efek serupa juga dialami Mas ini. Heuheu …. awalnya saja dengan PD bilang: “Gampang niku, Mas” yang kemudian berakhir dengan sesi tanya jawab dan kebingungan mencari lokasi hotel.


Muter-muter Alun-alun Keraton, dan! Akhirnya ketemulah alamat itu. Itupun saat sudah di jalur yang tepat, kami masih harus bertanya lagi ke pak tukang becak karena alamat Ndalem ini nyempal dari urutan rumah-rumah lainnya. Heuheu …


*


Ndalem Mantrigawen sendiri adalah eks bangunan kuno. Nyaman dan khas lingkungan keraton. Hanya saja, untuk urusan kamar mandi, saya harus berbagi dengan yang lain. Kamar mandi umum yang tersedia dua buah. Gapapa juga sih, wong malam-malam jadi sempat lihat turis cewek cuma dibalut handuk sehabis mandi heuheuehu …


Selepas mandi, perjalanan pagi ke Kalibiru dimulai. Lama perjalanan sendiri antara 1 – 1,5 jam dari pusat Jogja. Rute yang dilewati kalau kamu dari Malioboro adalah mengikuti arah Jl. Wates arah utara ke Purwoharjo. Ketika telah di pertigaan Wates-Purwoharjo-Sermo, kamu belok kanan ke arah Sermo. Perjalananmu akan melewati Pasar Sentolo. Ikuti saja papan penunjuk arah menuju Sermo sampai nanti bertemu perempatan besar. Kalau ke kanan ke Clereng dan lurus ke Kalibiru.


Dari saran mbak penjual batagor, perjalanan ke Kalibiru relatif lebih singkat jika lewat Clereng. Tapi saya tidak menempuh jalur itu. Saya mengikuti papan hijiau penunjuk ke Kalibiru. Jalanannya lebar, beraspal (tapi juga bergeragal) dan benar, tidak terlalu mulus bagi kendaraan. Konturnya melingkar naik-turun. Jika mengikuti arah jalur searah itu, maka sampailah kita di gerbang masuk Waduk Sermo.


Registrasi masuk sebesar Rp. 6000,-. Alamnya asri dengan deretan pepohonan hijau dan angin yang tak terlalu kencang. Dari Waduk Sermo jika ingin meneruskan ke Kalibiru cukup ikuti rute yang ada. Sesampai di sana kita hanya dikenai retribusi parkir.


*


Kalibiru adalah dataran setinggi kurang lebih 400 mdpl yang dikreasi menjadi wahana outbond dan rekreasi keluarga. Di sana, kamu dapat melihat lanskap Waduk dan bukit yang mengelilinginya. Ada beberapa pos pantau yang dapat menjadi tempat istirahat sembari menikmati ketinggian alam. Soal tempat makan, Kalibiru menyediakan beberapa warung pun cottage untuk bersantai.

 

*


Pukul 13.00 selepas menjamak Dzuhur dan Ashar, perjalanan saya lanjutkan (sesuai itinerary awal) ke Puncak Suralaya. Pertimbangan saat itu (di sini saya lupa memperhitungkan potensi cuaca yang kurang bersahabat), sesuai itinerary, saya akan sampai di puncak saat senja turun. Perjalanan ke Suroloyo sendiri memakan waktu kurang lebih 1 – 1,5 jam dari Kalibiru. Rute yang ditempuh adalah Kalibiru-Nanggulan-Dekso-Kalibawang-Jagalan-Suroloyo.


Walaupun jalanan relatif sepi dan mulus, Suroloyo serasa seperti mimpi. Tidak mudah ditemukan. Setelah lepas dari Nanggulan dengan kepala penuh tanda tanya ke mana lagi, masuklah saya di Kalibawang. Di sinilah hujan turun. Saya tak pedulikan, awalnya. Mengikuti jalan protokol arah ke Magelang, motor terus saya pacu sampai akhirnya saya menyerah dan bertanya. Walhasil, saya kebablasan heuheu….


GPS tidak banyak membantu karena gerimis. Modalnya hanya bertanya pada penduduk setempat. Akhirnya pada sebuah pertigaan dengan plang menunjuk arah Magelang-Semarang. Mengikuti arah itu, sampailah kita di Pasar Jagalan. Puncak Suroloyo, seperti namanya, masih di puncak angan yang berkabut dan samar. Kembali saya bertanya. Dan kali ini si Mbak-nya menjawab: “Lempeng mawon”.


Lebar jalan menuju Suroloyo hanya cukup untuk satu mobil. Dikelilingi tebing dan jurang. Berkontur menanjak dan beraspal yang tidak begitu bagus. Selama mendaki, motor saya pacu 20 km/jam. Hujan turun semakin lebat. Saya (masih) tak peduli. Mengikuti jalan setapak itu alam mulai liar. Air yang jatuh semakin deras ditambah angin dan petir. Saya (masih) keras kepala. Motor terus saya pacu sampai pada sebuah perempatan dan gapura. Jika ke kanan adalah ke Borobudur, jika terus adalah Suroloyo.


Akhirnya!, batin saya.


Sebagaimana menemukan jalan menuju harta karun, saya semakin antusias. Hujan tak lagi saya hiraukan. Saya mulai sombong ….


Di sanalah saya benar-benar khilaf bahwa alam bisa sangat tidak menjanjikan. Hujan menghalangi nalar saya yang menyangka jarak menuju Suroloyo sejauh 8,5 km menjadi terbaca 2,5 km saja. Alam memukul kekeraskepalaan saya berkali-kali. Nalar saya lupa bahwa hujan angin di gunung bisa saja membuat saya celaka. Nalar saya ditutup karena keegoisan saya menapaki jalanan licin, tak berujung, rasa jengkel, dan pandangan yang memutih kabur karena terpaan hujan.


Pada kilometer ke lima saya akhirnya berpikir waras. Longsoran air dan tanjakan yang membuat saya semakin jengah itu menyadarkan saya bahwa tujuan abadi saya untuk meneropong senja di puncak perbukitan Menoreh hari itu harus dikubur dalam-dalam.


*


Hari terakhir di Jogjakarta. Itinerary saya susun ulang. Sisa paruh hari (dan hari ini cuaca sangat cerah, alhamdulillah) harus menjadi acara kembali saya ke Puncak Suralaya. Saya tak dapat sunset, memang. Belakangan saya hanya mendapat gosong dan keringat. Heuheu…


Selepas check out pada pukul 07.00, tanpa sarapan, motor sekali lagi saya pacu ke Suroloyo. Jika dari titik 0 kilometer, arah yang bisa kamu tempuh adalah Wates-Godean-Kalibawang-Jagalan-Suroloyo. Lama perjalanan 1 jam. Mengulang rute yang sama, saya akhirnya mencapai pos registrasi Puncak Suroloyo pada pukul 09.00 pagi.




Kamu tidak perlu terperangah karena dari ketinggian 2000 mdpl itulah kamu dapat melihat Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro dalam satu gugusan agung. Pagi itu keempatnya biru dengan awan putih memeluk lehernya. Perbukitan Menoreh ini adalah tempat tertinggi dan legenda kuno Jogjakarta yang takkan sia-sia kamu datangi. Untuk melihat lanskap Borobudur dan keempat gunung agung dengan baik, kamu harus naik tangga menuju pos pantau yang terdiri atas 200-an anak tangga. Tak perlu khawatir lelah karena begitu sampai di atas, semua akan terbayar oleh kesederhanaan benda-benda mati yang entah mengapa manusia tak pernah berhenti mengagumi.


*


Kereta saya akan tiba di jalur tiga. Berat meninggalkan Jogjakarta dengan hal-hal sederhana dan kadang bodoh itu tiba-tiba. Itulah sesaknya perjalanan. Ketika kamu harus memutus hubungan dengan hal-hal ajaib yang kamu temui sepanjang hari. Ketika kamu harus meninggalkan beberapa kenangan atau cerita atau apa pun di tempatmu pernah berada. Ketika kamu ….. menembangkan doa tentang cinta dan kerinduan dengan tulus di dinding-dinding stasiun.


Ini adalah bagian lain perjalanan saya. Jika kamu harus tahu, saya – sebagaimana kebiasaan saya – tak pernah ingin memaksakan apa-apa dalam perjalanan ini. Saya sumarah kepada langkah saya sendiri. Gusti Allah tahu itu.


Jumat, 13 Februari 2015

Idealisme




 

Setiap kita, dalam skala paling kecilpun, memiliki suatu gagasan ideal. Tentang apa pun. Agaknya, dengan memikirkan, terlebih menerapkan, gagasan ideal itu sedikit banyak telah membantu kita tetap terjaga di hari-hari gelap. Membuat kita merasa bahwa ada substansi yang perlu kita sampaikan dengan cara dan metode kita sendiri. Perjuangan dan pertahanan atas nilai yang kita percayai.

Idealisme pulalah yang menceritakan banyak sekali sejarah kepada kita. Tak terkecuali yang getir, seperti perang.

Agaknya sejarah kita adalah memang sejarah peperangan. Dunia kita tinggal dibentuk dari darah dan ide-ide tentang perdamaian dan kenyamanan yang ditempuh dengan mencaplok hak bangsa lain. Ketika melihat perang, maka kita melihat idealisme adalah faktor paling utama, selain artileri dan kavaleri, yang mutlak diperlukan untuk menghadapi medan tempur. Gagasan ideal tentang sebuah “perdamaian” abadi atau sungai-sungai surga bagi para pahlawan perang itu nantinya, tak pelak menjadikan meraka rela menyambuat kematian dengan hati bergelora. Otak dan hati mereka telah diset sedemikian rupa sehingga kesetiaan tertinggi hanyalah kepada cita-cita ideal yang telah diinisiasikan oleh raja, komandan, ketua mereka yang agung.

Cita-cita ideal milik pribadi itu telah berkembang menjadi cita-cita ideal komunal. Setiap kepala kini memiliki visi dan misi yang searah dan sejalan dengan pemimpin mereka. Perang adalah jalan untuk mengubur idealisme yang lemah dan menjejalkan gagasan milik para pemenang. Selebihnya, adalah hal bagaimana mengatur pembagian hasil rampasan, kursi-kursi kekuasaan, dan ekpansi-ekspansi politis. Tapi yang inti tetaplah pengakuan idealisme yang paling benar dan membenarkan.

Benar dan membenarkan inilah pangkal bagaimana kita lupa bahwa di antara siapa yang benar dan siapa salah ada tangan tak kentara yang menimbangnya. Benar, bisa menjadi salah jika untuk mencapainya kita menggunakan cara-cara yang tidak bermoral dan a-humanis. Dan salah, belum tentu berlabel “salah”, jika ukurannya adalah penilaian parsial dan ketidaktahuan, sebagaimana Khidir melakukan hal-hal yang “salah” menurut ukuran Musa.

Sepanjang hidup, kita telah melihat idealisme yang benar menurut para penggagasnya itu bertaburan. Ada yang tumbang, ada yang masih bertahan. Aliran dan persepsi tak terhitung jumlahnya. Hanya saja, siapa yang benar dan siapa yang salah, bagaimana secara hakiki kita menilainya?

Jika seorang nabi seperti Musa saja masih diberikan kabut dalam hatinya untuk melihat kebenaran sejati yang ditunjukkan oleh Allah SWT melalui Khidir, maka bagaimana mungkin kita yang hidupnya di akhir zaman dan masih meraba-raba ini begitu jumawa menjadikan idealismenya gagasan paling benar dan membenarkan?

* * *



Minggu, 11 Januari 2015

Kepadaku, Arwen, dan Zaman

Sebuah zaman memiliki tantangannya sendiri. Rasanya, tak pernah adil membandingkan keberadaan suatu zaman. Atau sebaliknya, memiliki kecurigaan terhadap masa kini atau masa depan karena merasa masa lalu itu lebih baik. Lebih bermoral. Lebih bersahaja. Lebih "Piye enak jamanku, tho?"

Karena zaman, sebagaimana ia adalah anak-anak dari seorang Ibu bernama Waktu, tak bisa dibendung. Dia tak melemah, walau gersang. Dia adalah gerak yang tak mundur walau dipukul karena motor penggeraknya adalah cinta, revolusi, keterbelengguan, bahkan kebodohan.

Kekhawatiran sering membuat kita merasa hari ini dan masa depan adalah hal yang jauh dari jangkauan. Ia seperti menelan tubuh dan pemikiran kita yang tak sejalan dengan produk zamannya. Ia – dengan kecepatan dan keganasannya – memakan segala batas. Sementara kita, produk dari masa lalu, hanyalah pelengkap dan saksi bagaimana roda-roda itu menggilas dengan kejam.

Dan, anakku adalah produk bagi masa depan itu.

Ah .. mungkin aku yang terlalu drama. Atau mungkin cemburu pada Arwen, putriku. Dia kini menginjak usia 10 tahun. Cantik, lincah, high-tech, pintar, naif, dan dia hidup di zaman dimana serigala berpakaian rapi parlente.

Sementara aku? Mainanku semasa kecil tak lebih dari batu dan lempung. Dan pada zamanku, serigala adalah serigala. Tanpa tedeng aling-aling.

Arwen lain. Dia hanya akan mengenal tekongan, go back to door, adu gasing, dari buku sejarah saja. Arwen, sebagaimana produk zaman ini, menghabiskan waktunya dengan bersosialisasi via Facebook, Twitter, Path, game online, dan hal-hal yang melibatkan paket data, internet, dan sesuatu benda bernama smartphone yang menjawab segala kebutuhan anak zaman ini .

Bagiku, itu tak masalah selama Arwen tidak kehilangan waktu belajar dan bermainnya dengan dunia nyata. Ya, inilah salah satu kecemasanku tentang dunianya – duniaku juga sebenarnya, tapi aku seolah terasing daripadanya.

Harus aku akui bahwa aku tercerabut dan kehilangan diriku sendiri di zaman ini. Hari-hari terasa bias. Aku tak mengenali lagi kosakata “tabu” dalam kamus orang-orang ini. Pornografi, hubungan gelap, yang dulu jelas pada zamanku adalah aib dan harus dikubur dalam-dalam, kini seolah itu adalah komoditi yang harus dijual dan dikonsumsi.

Lihatlah siaran televisi (salah satu produk racun juga, bagiku). Aku tak perlu lagi menjelaskan betapa keluguan dan tabu yang dulu dijaga itu kini urat malunya telah diumbar sehari 7 kali. Oh, God! Ibuku akan mengurungku di dalam kamar selama 3 hari kalau aku sampai ketahuan merebut pacar orang!!

Belum habis tentang siaran televisi yang hanya memperdulikan rating dan kenihilan akal (aku harus jujur karena generasiku mendidikku demikian, dan kupastikan aku menurunkannya kepada Arwen), putriku kelak akan bergelut dengan korupsi yang semakin banal dan liar. Banyak sekali -isme yang aku tak mengerti lagi mana yang benar, mana yang salah. Radikalisme, twitwar-isme, maling-pajak-tapi-masih-bisa-nonton-tenis-isme, atau -isme-isme lainnya yang pada zamanku dulu tak banyak mendapat simpati apalagi sikap permisif. (Sampai kini pun, aku tak pernah tahu aku ini -isme yang mana?).

Aku sadar, jika aku mengalah pada zaman ini, ia akan menginjakku lebih keras. Lihatlah Arwen: bagaimana ia sering merengek ketika aku tak mengizinkannya nonton kartun. Ketika ia mencemberutiku sejam dua jam, karena aku menyita smartphone-nya. Seolah tanpa benda itu ia jadi terbelakang. Benda itu merampas fungsi sosial Arwen. Dia jadi lemah. Dan (kupastikan) aku tak mau anakku lemah.

*

Tapi, ternyata akulah yang lemah.

Aku adalah produk dari kekolotanku. Aku adalah orang yang berhalusinasi melangkah di jalan lempang, namun tak menyadari bahwa - seperti kata Umar Kayam - jalan sebenarnya menikung. Dan selamanya akan menikung.

Dunia Arwen ini adalah embrio yang dulu ditanam jauh sebelum zamanku. Sebelum proklamasi 17 August 1945. Bahkan jauh sebelum bola lampu ditemukan. Para ilmuwan, cendekia, sarjana, bahkan Tuhan sekalipun telah berkonspirasi menghadirkan agama, sains, teknologi, krisis, hingga berbagai macam aliran hari ini. Newton, Einstein, Soekarno, nenekku, dan aku, hanyalah orang yang turut andil membangun batu-batu pondasinya.

Kelak, Arwen akan meneruskan apa yang kami mulai itu.

Entah, karya agung apa namanya yang disusun tak mengenal ujung. Aku hari ini adalah orang yang sedang membayar sekaligus menumpuk hutang baru. Hutang yang harus Arwen dan cucuku kelak lunasi dengan teknologi dan strategi mereka sendiri. Aku melihat orang tua lainnya pun hari ini sedang mempersiapkan hutang yang tidak main-main. Mereka meng-illegal logging. Memperkosa laut dan gunung. Membangun ide-ide materialisme di segala segmen.

Tapi, sebagaimana ibu yang selalu menyelipkan nasihat dalam dongengnya, zaman pun demikian. Nilai-nilai kebaikan masih bermunculan dari masa ke masa. Wujudnya beragam. Tembang dolanan, agama, sastra, seni, pemikiran brilian, atau intisari samsara yang menyejukkan dan membuat kita kuat menyongsong gerbang zaman berikutnya.

Nilai selalu menemukan bentuk baru. Dalam konteks maupun perannya. Dalam wadah maupun metodenya. Jika dulu nenek menisbatkan nilai itu dalam bentuk dongeng pengantar tidur, kini aku mewariskannya kepada Arwen melalui tontonan film yang bisa kami diskusikan nilai-nilai dalam ceritanya. Selebihnya, seiring pertumbuhan sosial-psikologisnya, Arwen akan menyempurnakan nilai suci itu. Mewariskannya kepada cucuku, cicitku dan seterusnya.

Sampai zaman benar-benar bubar.