Senja adalah tentang pulang. Perjalanan kembali ke rumah, ke muara,
setelah mengolah pencarian dalam perjalanan. Pulang adalah bagaimana
melaporkan dan menyerahkan apa yang telah kita terima. Dengan penyerahan
itulah, rumah, muara, memberikan tempat buat kita berebah.
Senja
di langitku takkan sama dengan senja di langitmu. Sebagaimana kilometer
perjalanan dan derajad hidup kita yang berbeda. Di atapku, senja
memuar merah seperti darah. Di tempatmu, senja adalah warna emas meleleh. Tapi itu tak berarti senja masing-masing kita lebih baik satu dari lainnya.
Hanyalah Dia, yang Maha Menilai, yang dapat menentukan apa yang akan
kita terima di dalam rumah. Di dalam senja, orang hanya akan merasa
trenyuh tanpa berkata-kata menyaksikan langit memudar dan nyalanya
hilang. Mereka merayakan pulang tanpa kembang api dan sampanye. Tanpa
hingar bingar atau upacara.
Karena kelak mereka pun akan menjadi senja. Kelak akan menempuh perjalanan dengan bertelanjang. Di dalam hidup ini, jika nyala pelita itu redup, kemanakah perginya nurnya?
Tak lain ialah kepada ada yang tiada.
Karena kelak mereka pun akan menjadi senja. Kelak akan menempuh perjalanan dengan bertelanjang. Di dalam hidup ini, jika nyala pelita itu redup, kemanakah perginya nurnya?
Tak lain ialah kepada ada yang tiada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar