Suatu sore, di satu jam terakhir menjelang adzan Maghrib, saat matahari menyerong mendekat ke Barat.
Ada yang selalu ajaib. Sesuatu yang samar samar menyelinap dalam kalbu. Wajah yang selalu sama, tak pernah berubah setiap kali kaki ini melangkah di jalanan Sawojajar.
Ada siulan pelan angin yang pertama menyalami di langkah pertama meninggalkan jalanan D. Limboto. Menuju ke Selatan, ruas jalanan D. Tempe yang lurus, kenang kenangan pecah berhamburan. Teringat, ketika selepas Ashar di jalan ini aku, kamu, kita hanya punya satu tujuan. Berkaos, bercelana pendek, dan dengan bola bundar terpantul pantul di tanah.
Lalu ada pos satpam. Kios rokok. Sekarang sudah lengang. Tidak ada bapak bapak yang main remi dan secangkir kopi bersanding di meja itu. Namun, seolah hanya masa yang membuat menua, tapi tidak demikian dengan rentang perjalanan kita.
Di sana, di ujung jalan D. Tempe, rumah rumah cluster mulai menjamur. Tapi tidak bagiku. Itu masihlah tanah lapang, di mana sepasang gawang kayu dan anak anak SSB Rajawali berseragam biru berhamburan berlatih. Lari kesana kemari. Dan kita, yang tak tahu diri itu melamar tantangan pada mereka. Ah … bisa ditebak sudah. Nafas kita terlanjur putus sebelum sempat memukul balik lima atau enam angka yang mereka sarangkan.
*
Matahari pelan pelan kehilangan pelukan hangatnya. Suhu udara turun. Langkah ini masih tak terhentikan.
Seratus meter dari cluster: Sekolahku tercinta. Dindingnya sudah tidak lagi kusam. Sudah tidak ada lagi lapangan gersang atau “ladang gandum”. Namun, bagiku ia tetaplah SMA yang sama seperti tujuh tahun lalu. Dimana bunga bunga chery yang putih berserakan di tanah dan plesteran-nya yang berdebu. Dimana di lapangan kemerahan itu pernah ada lomba tarik tambang di tahun pertama kita bersama.
Dimana di pelataran depan yang kini “angkuh” itu kebrandalan kita pernah ingin membuka paksa gerbang sekolah sekedar demi mendukung tim futsal sekolah berlaga. Dimana setiap Minggu pagi kita berdempet dempetan di musholla, sholat Dhuha lalu nembang istighosah: “Saantuka ya ghaffaru ahwa wa taubatan … wabil qohri ya qohar ruhutman tahayalla ....“ Ah, delapan tahun lalu itu terlewat sudah. Seperti pemandangan di jendela kereta yang selalu silih berganti. Namun kita tetaplah anak anak matahari. Insya Allah.
*
Matahari sudah tidak terasa dan langit semakin abu abu ketika gerbang D. Ranau menerima jejak kaki ini.
Ada yang tumpah ruah. Di setiap ruas tak pernah berubah. Cuma beberapa rumah yang gonta ganti cat atau kos kosan yang ditinggalkan. Namun itu tak mengubah apapun. Termasuk Sandhy Putra. Masih begitu megah dan seakan mengatakan: “Inilah sebenar benarnya sekolah”.
Walau kini ia sendiri sudah kehilangan “gerbong kereta” sistel-nya dan sepetak lahan hijau kecil di selatan tempat dulu kami bermain melepas sore. Ia tetaplah Sandhy Putra, yang selalu didesiri angin misterius dan tanahnya yang lengang namun sungguh ajaib menghibur. Ia masihlah Sandhy Putra, yang kini maupun tahun tahun mendatang akan selalu (dan pernah) menjadi benang perajut mimpi anak anak Menengah Pertama.
“Nanti kalau SMA, sekolahku di sini”, sambil mengangguk angguk ke arah kelas di lantai dua.
*
Ada keraguan raguan. Rasa malu. Mungkin juga takut saat menghadapinya. Tempat usaha fotokopian itu tak ada yang berubah. Catnya masih hijau. Plang nama usahanya masih sama. Ah, seolah masa tidak membuatnya menua. Kaki ini sempat mematung, tidak tahu harus apa ketika melintas di depannnya lalu ada sepasang mata yang mungkin mengenali dan mencegat menghentikan.
Aku tidak ingin terlalu sentimentil. Tapi, sayang begitulah adanya.
Menjauh dari sana, di ujung D. Ranau, hiruk pikuk ada dimana mana. Suara motor, suara penjaja es pisang ijo, jajanan pasar, derap derap sandal. Lalu jalanan kecil yang tersendat rentetan manusia. Tua - muda; laki laki - perempuan; balita sampai mahasiswa; berjejalan di sini. Aroma sate usus, cilok bakar, sampai roti mariam menyeruak di sela selanya. Di bulan Ramadhan, jelang berbuka, Pasar Sore di Ruko itu adalah primadona Sawojajar kita.
*
Udara sore semakin magis dan matahari sudah lelap di telan langit Barat. Selesai dengan sekeresek buah tangan, langkah ini menebas sisa sisa waktu di jelang datang Maghrib. Melewati jalanan yang sama. Seolah bangunan bangunan batu, bau tanah, udara yang semakin berat, langit yang tidak lagi cerah namun menenangkan itu mengatakan: “This is home; Kamu selalu bisa pulang dan mengenang ngenang.”
Keluar dari Little Japan, tahu tahu adzan memanggil. Langkah ini semakin cepat. Yang ada di belakang, tidak untuk ditinggalkan. Hanya disimpan, untuk suatu hari nanti aku, kamu, atau kita tapaki lagi bersama sama. : )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar