di depan teras cafe;
di seberang kolam air mancur di City Square;
di kala kirana belum naik terlalu tinggi
Pesanmu kuterima:
"Ah, di sinipun, walau gerimis, tak pernah selembut ini. Bisa kau bayangkan? Cemara di depan rumah itu sampai menari nari. Seperti London Philharmonic sedang bernyanyi untuknya."
Kubalas lagi, begitu cepat:
"Tapi sayang, di sana luruh. Di sini orang masih beromansa dengan masa lalu; akan masjid masjid peninggalan ulama besarnya, gereja gerejanya yang bertopi Gothic runcing, lalu kau belum pernah tahu cerita kolam keberuntungan, kan?"Pesanmu tak kalah cepat bersarang:
"Tapi tetap saja, di sana tak bisa beradu manis dengan rinai gerimis di bawah jembatan kota ini, kan? Dimana kau pernah seperti Peter Pan saja, bergitu senangnya memercik mercikkan air itu ke wajahku. Dasar anak kecil hahaha ..."
Aku diam sejenak. Ada coffee mocca yang menghampiri datang. Lalu brownies panggang mengiringinya.
"Ah .. aku bukan anak kecil. By the way, Aku ada brownies, lalu coffee mocca, lalu aah ... di sini besenandung Berlin, Take my Breath Away ... dum dum dum ... lalu ah matahari .. sun shine tak pernah sehangat ini. Biar kuperjelas: di sini awan pun bisa membentuk hidungmu yang menggemaskan itu. Hehehe .. Di sini memang sedang tidak gerimis, tapi aku suka itu. Ah, bukankah Kamu cemburu, karena semua ini begitu benar dan begitu nyata? haha .. Dasar ... Siapa yang anak kecil sekarang? Hehehehe...."
Aku hirup cofee mocca itu dengan tegukan kemenangan. Lama Kamu tak menjawab. Mungkin sedang berpikir.
Tiba tiba handphone-ku bergetar. Terdengar senandung nada panggil khusus untuk namamu.
"Sekarang mana yang lebih nyata, Sayang?" katamu pelan. "Bukankah yang demikian ini yang sebenarnya begitu benar ... begitu nyata?"
Aku belum menjawab. Suaramu masih menggema, walau kini Kamu pun sama diamnya denganku. Selalu akan demikian, ketika seseorang memulai perang yang ia kadang tak selalu bisa memenangkannya.
Di menit itu juga, Aku lipat cepat cepat tikar pikiranku untuk menggodamu dengan aroma parfum Perancis yang bermain main di udara bersih ini, karena aku tahu jawaban macam apa yang pasti akan kuterima.
Di sepanjang boulevard; di sudut sudut kecil gang; di hotel; di kamar; di taman; bahkan di samping secangkir coffe ini hanya wangi tubuhmu saja yang kurindukan.
"Hey, hey .. kenapa jadi Kamu yang pendiam?" bisikmu sejenak kemudian.
"Tak ada .. hanya saja .. Aku ingin pulang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar