Minggu, 12 Desember 2010

Catatan Kenangan: Bali, Perjalanan, Kita

27 Mei 2010

Pada mulanya, sudah terpancang cukup lama untuk mewujudkan sebuah perjalanan jauh untuk mengisi kekosongan di sepanjang long weekend di penghujung Mei. Walaupun sempat kembang-kempis di preambule-nya, namun akhirnya terpuaskan juga dahaga itu. Ya! Inilah pengisi kekosongan itu ... dan Bali adalah namanya.

*

Aku sebenarnya adalah orang yang suka memikirkan segalanya terlebih dahulu - bahkan dalam skala yang sebenarnya tak terlalu bernilai - namun kenyataannya, pada detik-detik akhir justru aku sendiri yang semrawut, kelimpungan tak karuan, belibet dengan segala macam tetek-bengek lainnya.

Disadari long weekend ini adalah barang berharga bagi sebagian besar manusia yang jemu dengan dunia kerja - dan aku dengan bodohnya baru menyadari itu beberapa jam saja sebelum hendak bertolak ke Pulau Dewata. Reservasi sudah barang tentu makhluk buruan di tengah jam-jam menuju pelampiasan kepenatan itu.

No hotel! No lodge! then where will I spend my night?

Adalah Mbak Listrie - Asman Call Center APJ Jember, kalau aku boleh menyebutnya demikian - yang tak mau kalah sibuk dengan kesemrawutanku. Berkali-kali kusambangi meja call center bukan untuk tanya seputar bill rekening atau gangguan pemadaman, melainkan menelepon kesana kemari mencari penginapan, travel agen, jadwal keberangkatan bus, ongkos tiket, dan bla bla bla lainnya.

"Hallo, dengan Kuta Inn? ... Oh, sudah full ya?"

"Paradiso Hotel? Full juga? Hmmpppfffhh..."

Aku belum patah arang. Kriinggg ... kriiinnggg...

Tiga, empat, lima penginapan semua kompak menolak lamaranku. Gila! Konspirasi macam apa ini! Travel agen pun tak ada yang melayani perorangan, hanya ada satu itupun mahal selangit. Bah! Benar-benar di luar rencana - atau lebih tepatnya aku tak melogika ini semua.

"Wis talah, Dik. Sampean iku kate nang Bali ae repot nggak karuan," kata Mbak Listrie. "Luwih penak sampean backpaker."

"Backpaker kui opo, Mbak?"

"Yo sampean nggowo ransel, perbekalan nggowo dhewe, ngkok neng kono nggowo sleepingbag, ngene ndek kono ngkok sampean bla bla bla .. bla bla .. bla .. bla bla bla bla bla...."

Nasihat yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Bos Yuda pun menimpali:

"Ngkok nang Bali, golek hotel cedhek-cedhek Kuta, Gie. Lho koen weruh nang sakdowone Kuta iku uaaakeehh hotel. Nang sak dowone Joger iku akeh nggone nginep. Lho mbiyen lho arek-arek iku nang Bali malah seneng turu-turuan nang pantai, ora nang hotel. Tapi wuakeh ngkok hotel nang kono. Mek awakmu lek mangan sing ati-ati, ngkok moro-moro awakmu mangan nang warung - pas enak-enake mangan - moro -moro ndase babi nggantung nang pojokan! Biasane ngono. Hehehehe."

Ah, kata-kata tidur di pantai itu sempat membuat harapanku sedikit membuncah. Ya, tak ada atap genteng, hamparan langit pun tak apalah.

Juga kala itu, Mbak May dan rekan setujuan lainnya sempat menawari, kenapa tidak berangkat bersama-sama saja? Aku jawab dengan bersikukuh kalau aku mau sendiri saja. Itupun kutegaskan pada Bos Yuda yang sebelumnya juga telah mengkhotbahi seputar akomodasi menuju Bali.

Sungguh, bukannya aku tak berkenan dengan tawaran berangkat bersama-sama itu, tapi ini cuma masalah komitmen kecil antara aku dan diriku. Entah mengapa, lukisan jingga langit Bali waktu itu selalu saja menerawang khayalku - dan di sana hanya ada aku dan diriku.

Hingga jarum waktu hampir mengarah pada pukul 16.45 WIB aku masih tanpa kepastian akan di mana di sana nanti. Tapi belum ada atap berteduh di Bali bukan bukan berarti harus kembali, kan? Risau harus disapu. Ini pun hanya travelling, bukan lamaran anak Kyai. Jadi? Bali haruslah Bali.

*

Persiapan kilat. Satu kaos ganti, satu celana pendek, sepasang sandal japit, NLM (yang karena kesibukan akhirnya harus terbengkalai), perlengkapan mandi, dan kamera. Cukup. Dikemas oleh ransel dan tak menyisakan keraguan lagi. Kos sudah hening. Si Fatur rupanya juga telah bersiap menelusuri Jogja malam itu. Benar-benar para manusia yang melemparkan diri jauh meninggalkan East Java!

Kurang lebih pukul 19.20 WIB aku tiba di Tawang Alun. Kontan satu-satunya angkutan yang ada hanyalah bus. Dan... Masya Allah, ini tak mungkin lebih buruk kan?! Atau memang sudah berjodoh, hanya bus bermerk: "Dahlia" yang nanti akan melabuhkanku di Bali.

Alamak! Kenapa harus terjadi pada saat ini?! Bus itu adalah pengalaman burukku selama perjalanan Malang - Jember. Dulu, bersama si Jelegh Dennik, sudah dua kali bus harus ganti ban bahkan belum sampai separuh perjalanan, ruangan yang acak-acakan, dan sekarang ... benda itu yang akan mengantarku menyeberangi Selat Bali? Aaarrrrrggghhhhh!!

Dengan desah nafas pasrah aku naik. Dan benar sudah, belum sampai Wirolegi, si bus sudah mulai rewel. Ngambek. Ceremeh. Kenek dan sopir saling memaki. Penumpang celingak-celinguk mengamati apa gerangan terjadi. Bunyi kunci inggris atau apalah itu mulai terdengar berdenting-denting. Aku? Masa bodoh!!

*

Angin semilir berhembus menepuk-nepuk pipi. Kelap-kelip lampu mercusuar menyorot kapal dengan irama teratur. Kecipak air laut gemerlap kekuningan beradu dengan riak gelombang yang mendesah syahdu. Di sekitar dermaga, nampak dua orang tengah mengail ikan. Sesekali teriakan kapal ferry menyadarkan kami dari jiwa yang terlena.

Ketapang. Selat Bali. Aku tepat berada di atasnya.

Hampir menjelang pergantian hari ketika aku melihat ada kapal serupa tengah mengarungi selat. Teringat aku pada mereka yang juga akan berlabuh di Denpasar. Apakah mereka ada di kapal itu, pada saat itu? Karena tak mungkin aku berteriak, maka kukirim saja pesan singkat: "Wooooooyyyyy" sebagai ganti teriakanku.

Tuing...tuing...tuing...tuing.....

Kiki merespon tak kalah singkat: "Hmmm."

Tak lama, Ge ganti menjawab: "Ya Boy, ada apa?"

Disusul satu pesan singkat berisi sambutan teriakan dari Mbak May: "Ooooiiiii."

Kutanya dimana sekarang? Eh, masih di rumahnya Ge ternyata, katanya Kiki.
Lho memangnya rumahnya mau dibawa juga tah kok tidak berangkat-berangkat juga? Hahaha...

*

Kapal melaju tidak seperti bus. Aku tak tahu pasti kapan dia mengerem. Kapan kenek akan menurunkan penumpang. Kapan kenek akan mengumumkan ini sudah sampai Gilimanuk, karena memang di sini tak ada kenek yang rajin berkoar: "Gilimanuk, Gilimanuk", layaknya kenek bus.

Karena baru kedua kalinya - dan ini yang kali pertama di usia tua melakoni perjalanan sendiri di kapal - aku tak tahu kalau kapal sesungguhnya telah berlabuh. Sementara kusibukkan pandanganku dengan laut dan ombak, tahu-tahu ketika kutengok sudah hampir tak ada manusia di belakang sana.

Degh!

"Lho, udah sampai ya? Cepet banget?" batinku.

Buru-buru kuturuni dek menuju parkiran bus. Aman. Si Dahlia masih ada di sana. Di sepanjang jalan menuju pintu keluar pelabuhan nampak orang berduyun-duyun berjalan. Ah, mungkin itu rombongan satu busku tadi. Ah ya, itu kan ibu-ibu berjilbab kuning yang tadi di belakangku. Tanpa pikir panjang kuikuti saja kemana langkah mereka.

Kuikuti langkah yang tak jelas arah juntrungannya itu. Ada yang mencar kesana, ada yang kesini. Ada yang cari toilet, ada yang cari Aqua. Lha?! Si Ibu berjilbab kuning tadi malah sudah asyik salinf akrab dengan beberapa orang lain. Sudah menggandeng bocah pula yang tak kuingat pernah ada di bus.

Nah lho? Siapa nih mereka? Tak kuingat wajah mereka satu per satu, ya termasuk si Ibu berjilbab kuning ini - karena memang yang kuingat warna jilbabnya, bukan pemilik jilbabnya.

Alamak! Mengambil langkah seribu aku langsung lari balik kucing ke arah kapal. Dari jauh, Dahlia menderam melaju cepat. Hup! Aku selamat....untuk 30 detik ke depan.

*

Di ruangan kecil itu hanya ada aku dan tiga "pesakitan" lainnya. Kami adalah korban penumpang tak bertanda pengenal, atau sejenisnya, yang terancam dideportasi sebelum melangkah lebih jauh meninggalkan Gilimanuk.

"Saudara-saudara tahu kenapa Saudara-saudara saya kumpulkan di sini karena KTP Saudara-saudara bermasalah," terang Bapak bermata sayu yang kemudian kuketahui bernama Pak Wayan itu.

"Kami serius akan menindak tegas yang tidak punya KTP, atau KTP nya mati," lanjutnya. "Tapi karena kebijaksanaan saya, maka kami tidak akan memulangkan Saudara-saudara. Tetapi ingat, jika ketahuan Saudara-saudara berbuat macam-macam maka kami tidak segan akan menindak."

Berikutnya Pak Wayan menyuruh kami menandatangani arsip "pesakitan". Ya ampun, di saat seperti inipun, pegawai sekretariat masih harus berurusan dengan agenda, arsip, dan berita acara. Beberapa orang yang yang menyerahkan SIM sebagai ganti KTP telah berhasil lolos dengan mengucap ribuan terima kasih pada petugas. Tapi, kenapa aku tak kunjung mendapat perlakuan serupa.

Tak berapa lama dipanggilnya namaku. Dari dekat serak bus Dahlia sudah tak sabar. Dua menit kemudian dia sudah hilang dari pandangan mataku. Aku mengumpat kesal.

"Adik tahu kenapa Adik ada di sini, karena KTP Adik mati .. bla bla bla," jelasnya sama seperti pembukaan pertama.
 "Apalagi ini Presiden Amerika mau datang, kami tidak segan memulang
kan Adik ... bla bla bla ... tapi karena kebijaksanaan kami maka kami tidak akan memulangkan adik ... bla bla  bla bla ...."

Aku hanya mengangguk dan sesekali mengiyakan. Presiden Amerika benar-benar harus sudah steril dari orang-orang tak ber-KTP sejak di tempat senyap ini. Lalu seolah tanpa mempedulikan papan bertuliskan: "Pemeriksaan KTP" yang sudah terpampang jelas di depan, aku mengajukan pertanyaan bodoh:

"Pak, kalau pakai NPWP atau tanda pengenal dari instansi apa ya boleh?"

"Adik rupanya belum mengerti," potong Pak Wayan. Aku terkesiap.

"Di sini kami hanya menerima KTP, tidak lainnya... bla bla bla.... apabila ketahuan punya KTP tujuan libur, tapi nyatanya kerja, wah ... apalagi tak punya KTP,... bla bla bla .. apalagi ini Presiden Amerika mau datang ... bla bla bla.... nanti disangka mau ngebom, teroris, apalagi Adik masih muda ... bla bla bla .. disangka pengikut Amrozi bla bla bla..."

Alamak! Sungguh Pak Wayan, niat titiang ring Bali ini cuma liburan, tak lebih. Kalaulah ada benda "berbahaya" yang titiang bawa ya cuma sebungkus lecek A Mild ini saja Pak, pikirku.

Kemudian, di akhir ceramahnya Pak Wayan mengucapkan sesuatu yang membuatku tertegun:

".... Jangan jadi Islam Afghanistan, jadilah Islam Indonesia. Saya Hindu, tapi bukan Hindu India. Adik tahu India?? Saya Hindu Indonesia. Jadi pesan saya: Jadilah Islam Indonesia, jangan Islam Afghanistan...."

Pak Wayan memberiku selembar berita acara. Wisata hanya untuk dua hari. Tujuan Denpasar. Sret sret sret .. aku teken berita acara itu sebagai identitas sementara selama aku tinggal. Kini aku benar-benar sendiri. Jodohku dengan Dahlia pun telah berakhir di sini, karena dia tak rela menungguku barang sejenak saja.

*

Setengah terjaga dalam minibus menuju Ubung, aku bertanya pada lelaki tua di sampingku:

"Sudah sampai Denpasar, Pak?"

"Jauh, masih jauh, siang baru sampai," jawabnya.

"Oh...Bapak siapa namanya?"

"Aji Ma'ji. Adik siapa?"

Kukenalkan namaku. "Aslinya mana, Pak?" tanyaku kemudian.

"Saya Madura," jawabnya.

Beliau kemudian menjelaskan tempat tinggalnya yang ada di Sahera, sebuah daerah di dekat pasar yang dahulunya pernah digunakan sebagai gedung yang ramai dengan tontonan sabung ayam. Tak jauh dari situ ada kampung Jawa, tempat sebagian besar penduduk Jawa bermukim.

Pertemuan dengan Pak Aji Ma'ji inilah yang kemudian menjadi menjadi batu penolongku di tengah antah-berantah Denpasar. Ya, Pak Aji Ma'ji inilah yang turun mendampingiku ketika kami disambut para sopir di terminal. Beliau ini malaikat yang membantu memilihkan mana angkutan yang cocok, dengan supir yang mau menolong mencarikan tempat penginapan murah di Kuta bagi rekan sesama Jawa-nya.

Karena beliau pulalah kami kemudian bertemu dengan Pak I Made Yogi, supir angkutan umum yang tak kalah ramahnya.

"Kalau Adik mau cari yang murah di Kuta, ada di Melasti, di sana bisa dibawah 60," kata Pak Made. "Lebih enak kalau jalan-jalan rame-rame,...Adik sama siapa? Sendiri? Ah, sama pacarnya ya? Liburan?" tanyanya dengan logat Bali yang khas.

Aku jawab sekenanya saja sambil cengangas-cengenges.

Untuk ukuran seorang supir angkutan, Pak Made ini terbilang sopan. Bayangkan, untuk mau membuang ludah saja beliau minta maaf dulu padaku - takut tak nyaman menurutnya. Beda sekali dengan rata-rata supir di Malang yang tak tahu permisi mau buang ludah - sudah begitu masih diimbuhi umpatan semacam: j****k. Seperti belum pas dan lengkap rasanya kalau belum mengumpat setelah meludah.

Pelabuhan kedua: Kuta.

Menyusuri jalanan Legian ke arah selatan, berbelok ke timur, dan sampailah kami pada Hotel Arjuna. Tempatnya tak begitu luas untuk ukuran "hotel", tapi berbekal rasa syukur aku tak peduli lagi dengan semua itu. Induk semangku seorang ibu-ibu jutek, suka merokok, dan sekilas wajahnya mengingatkanku pada mantan bosku di Sawojajar dulu.

Aku jatuh lelah. Tapi, dari luar sana, gemerisik pantai dan jalinan ombak terasa benar menggelayuti jiwa. Ketika hal semacam itu membuat hati melangut, haruskah beban bernama lelah itu harus terus menempel di bahu dan kaki? Ah, pasir pantai tunggu kusambangi dirimu sesaat lagi.

*

"... Chopin ten uning ring Bali, wong putih mondok ring Kuta ..."

Sepenggal lirik lawas milik Guruh Gipsy itu yang dikemudian hari membuatku sadar bahwa Kuta dan Legian yang walau sudah dalam selimut malam namun tetap saja berkelap-kelip, sesak, dan riuh rendah dengan celoteh asing para sanak-kadang Freiderich Chopin.

Menyusuri Legian - Seminyak - kembali ke Legian lagi dalam balutan rinai gerimis, berputar-putar di sekitaran jalan-jalan kecil, Poppies Lane, dan hanya aroma negeri asing saja yang tampak kental - yang juga rajin disambuti dengan: "Hello, John.. Hello Mister, ... Hay Rasta come .. come .." sementara yang pribumi macam aku diacuhkan dan tak ditawari produk-produk kerajinannya... hahaha...

Aku pun turis wooyy ,,,, ! Hanya mereka kalau makan hamburger di cafe atau resto, kalau aku makan mie ayam di pinggiran jalan di depan calon resort nan megah bersama para kulinya.

Legian memang lebih hidup saat malam menjelang. Cafe-cafe penuh turis dan band bersahut-sahutan mendendangkan irama musik. Aku ngemper di depan ralah satu cafenya, di Sahadewa, kalau tak salah ingat namanya Legend.

Bule, dan bule, dan bule ... music western, dan music western, dan music western ... ah, tidak ada alunan musik tradisional yang menyapa telinga sama seperti ketika aku melewati salah satu pura beberapa waktu sebelumnya. Aku merasa hilang di negeri sendiri.

*

Matahari belum mendaki terlalu tinggi ke langit Kuta ketika aku mulai berbenah. Menyambung sms semalam dari Mbak May, rencananya kami akan bertemu di Joger pagi ini. Eh, tak tahunya, para rekan seperjalanan sudah melintasi Legian pagi itu. Humm... agar tak buang-buang waktu lagi segera kujejalkan potongan-potongan Chitato ke dalam mulut, krenyes..krenyes..., didorong dengan Aqua ... dan breakfast-pun terpuaskan.

Langit agak kelabu pagi itu. Berbekal peta wisata bali, kutiti jalanan Legian terus menuju selatan. Para pemilik toko mulai menaruh sesaji dan membakar dupa. Pelan-pelan aroma dupa mulai mengisi udara. Berjalan lurus, melintasi kaca-kaca Legian Express, M'Bargo, Restu, Agung, By the Sea, hingga langkah ini bertemu dengan monumen Ground Zero tempat bersejarah mengenang Tragedi Bom Bali.

Sejenak kusempatkan mengabadikan foto monumen yang menjulang ke arah mega itu. Ada beberapa nama terpahat di dindingnya, ada foto kenangan serta rangkaian bunga. Dulu pernah kengerian menjalar di sini. Dulu ada tangis berlinangan, mungkin sekarang pun masih tersisa. Zaman telah  mengabadikannya dengan tugu, dan waktu menuntaskannya dengan rindu.

*

Joger belum juga mempersilakan tamunya masuk, namun antrian itu sudah seperti ular saja. Pabrik kata-kata yang seperti tak pernah surut oleh massa dari berbagai penjuru. Matahari pelan-pelan mulai menyeringai. Terik. Sementara jalanan padat dan membuat serak pendengaran.

Dari seberang Joger, sebuah suara menyapa kehadiranku di sana. Lho?! Ada Pak Erfa rupanya, sama anaknya yang dinas di Bali - alias "ehem ehem"-nya si Septy. Hahaha... Mereka masih di luar sini rupanya. Berarti yang lain juga? Dan ya, katanya Pak Erfa, anak-anak Jember Terbina ada di sekitaran sini.

Dari seberang Joger, di tengah toko pakaian dan oleh-oleh yang sedang dirubung itu, Si Ceremeh nampak celingukan sambil ngublek-ngublek daster yang digantung rapi di pelataran depan. Dalam hati, aku tertawa sendiri.

Rasanya aneh, bertemu dengan orang-orang yang dikenal - yang biasanya bersua di APJ - tapi kali ini harus bertemu di luar Jawa. Di Bali..., bukan di samping mesin fotokopi Sekum; bukan kala menyetempel surat pengantar dokter; dan bukan pula ketika sedang cerewet sekali menyoal AC bocor, minta ATK, de el el; de el el.

Ahai! Ge, Q2, Mbak May, Mas Arip, Mas Dopo, Mas Ryan, dan saudaranya Pak Yoyok yang aku nggak tahu namanya sampai sekarang ... - aku menemukan kalian!

*

1 komentar:

  1. sepertinya aku tahu siapa yg kamu maksud "bosmu" di sawojajar itu.. :D

    Nice boy, sayang aku belum sempat mengabadikan perjalanan itu....

    Backpaker wannabe, someday...

    BalasHapus