Sabtu, 19 September 2015

Pohon Beton pada Suatu Malam

Pohon beton itu terletak tidak jauh dari jembatan Soekarno-Hatta yang setiap pergantian waktu gaduh dengan kesibukan dan egoisme jalanan. Di dalam pohon itu, dari salah satu jendela yang menantang gedung Universitas, Gerson menatap kota yang hendak tertidur itu dengan sebatang rokok di tangan. Di sofa yang lusuh bekas terkena tumpahan vodka, Adera rebah dengan novel menutupi wajahnya. Kaki jenjangnya selonjor menindih badan sofa.

"Kau tahu, aku tiba-tiba teringat cerita itu. Marno dan Jane. Entah mengapa aku merasa sentimen dengan cerita itu," kata Gerson.

"Aku gak sudi menjadi Jane," kata Adera datar. "Jane perempuan sundal dan goblok. Dan kau bukan Marno."

"Memang bukan. Ini juga bukan New York. Tak mungkin kota ini menelan kita berdua, kan?"

Adera hirau meletakkan novelnya. Segerai rambutnya menutupi pelipis.

"Pada akhirnya kita akan ditelan kesunyian masing-masing, kan? Entah itu di New York atau di liang lahat. Atau juga di kamar ini."

Gerson menatap sekilas perempuan itu. Kaos dalam hitamnya masih tersingkap dan lingerie merahnya seolah memanggil kelelaki-lakian Gerson untuk menyibak.

"Aku takut Malaikat Maut tidak jadi menghabisimu kalau kau telanjang begitu, Dera," katanya. Ia kembali pada gedung dan noktah-noktah kuning. Seorang pemulung memungut plastik ke karung goninya.

"Dan seperti apakah Malaikat Maut itu? Tidakkah menurutmu ia terlalu cabul untuk tidak mencabut nyawaku?"

Gerson diam-diam tersenyum. "Kurang lebih ia seperti pemanggul goni di bawah itu. Begitulah rupa Malaikat Maut. Ia mengambil jiwa orang lalu memasukkan ke dalam goninya."

Adera menautkan alisnya. Ia berdiri memeluk Gerson dari belakang. Bulan terlihat separuh dan kusam.

"Kalau begitu bukankah engkau akan merebut goni itu dan melepaskanku?" tanyanya.

Gerson berpaling pada wajah pualam dan mata jernih itu. Aroma Channel samar masih menguar dari tubuhnya.

"Aku tidak tahu, Sayang." 

Adera melepaskan pelukannya. "Sial. Sudah kuduga. Aku haruslah jadi Jane yang tolol."

Gerson seperti ingin meraih rambut hitam perempuan itu tapi diurungkannya. Ia menyalakan rokok dan kembali pada langit yang tiba-tiba mendung.

"Kau tahu, Dera, kalau nanti aku ... kalau nanti aku meninggalkan kamar ini, orang-orang akan ramai memburuku. Dan, entah kapan, kau akan bertemu lagi denganku. Itupun kalau aku belum dimasukkan ke dalam goni."

Adera merapat ke jendela. Jalanan mulai sepi dan langit bercadar kelabu. Dia selalu suka saat hari akan turun hujan. Aromanya mengingatkannya akan sesuatu yang purba dan akrab.

"Aku tentu takkan menemukanmu, Gers. Kau tahu itu. Hari-hari kita tidaklah untuk bersama, bahkan di kamar ini. Kita bukanlah sepasang suami istri yang urusannya tak pernah benar-benar selesai bahkan setelah bercerai."

Gerson tertawa. Itu pertama kalinya ia tertawa hari ini.

"Masing-masing kita menikah dengan keheningan masing-masing, kurasa," kata Gerson.

Jarum jam sudah tepat di angka 12. Gerimis pelan-pelan turun mengaburkan cahaya lampu-lampu jalan dari pandangan jendela. Malam seperti terowongan yang panjang.

"Karena hanya keheningan yang tidak butuh identitas, Gers. Kota ini, bahkan negeri ini, butuh identitas. Butuh benturan."

Gerson menyeka pipi wanita itu. Mencium bibirnya. Asin.

"Aku berharap kau adalah bagian dariku, Dear."

Telunjuk Adera menempel ke bibir Gerson. "Ssst...jangan pernah mengubah paradoks."

Kata-kata itu dikatakannya begitu pelan. Hampir berbisik. Gerson menatap mata itu terakhir kali. Seperti telah diatur oleh mesin, Adera tangkas meraih jins dan jaket hitamnya. Sepucuk pistol melilit di pinggangnya.

"Aku harus menyiapkan timku, Gers. Intelijen harus seperti burung hantu."

"Yah, begitulah harusnya. Dan aku harus membunuh Tuan Presiden."

Malam merambat semakin pekat. Hujan turun begitu deras. Dari kamar itu bunyi-bunyian dari luar terdengar seperti orkestra yang sumbang.

***

Catatan:
1) Marno dan Jane adalah tokoh fiktif rekaan Umar Kayam dalam cerita 1000 Kunang-Kunang di Manhattan.

2) Pemanggul goni diinspirasi dari cerita Lelaki Pemanggul Goni karangan Budi Darma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar