Ketika Gerimis Menipis dan Senja Terpejam
.. juga akan tiba saatnya Gerimis mesti menipis dan Senja terpejam, dengan begitu seseorang bisa menjejak permulaan dalam kilau linangan dan bersandar pada bahu Malam ...
*
Begitulah memang adanya. Sesuatu yang indah; yang sama sama dicintai; yang sama sama pernah memberi angan angan sebagai bagian dari landasan dunia yang penuh keceriaan. Yang sama sama (mungkin) Kita pernah peluk erat erat dalam dekapan. Yang juga (mungkin) pernah begitu syahdu begitu kita membauinya, menyesapinya, atau mendiaminya itu, akan tiba juga waktunya untuk berjalan sendirian saja tanpa Kita.
Senja yang semburat jingga kemerahan. Yang begitu temeram menerangi langit Barat di setiap kali ujung nafas Sang Sore pelan pelan terangkat naik kembali menemui Sang Khalik itu, juga akan demikian.
Dia akan pelan pelan memudar. Seperti cat air jingga yang ditetesi tinta hitam. Sedikit demi sedikit ia akan kehilangan warna sejatinya. Selanjutnya, si hitam mengambil alih perannya dan yang dinamakan Malam itu lahirlah sudah.
Seperti halnya juga dengan Gerimis, ketika ia masih begitu tebal, ketika masih mampu menjadi tirai yang begitu mempesona jendela dunia, ia adalah media kerinduan tak tertahankan. Bisa saja, di antara rinainya, terhembus bersama desau Angin suatu berita menyejukkan dari nun jauh di sana.
Bagi seorang yang tengah sendiri, nyanyian Gerimis yang mengalun di jalanan, di atap atap rumah dan pertokoan, di gemersik dedaunan, adalah kesejukan tersendiri bagi Hati. Ketika tiada suara yang menyanyikannya di samping telinganya; ketika tak ada yang harus dielus kepalanya seraya berkata: "Bukankah Gerimis sekedar mengingatkanku untuk tak pernah lupa memberimu kelembutan dan kehangatan, Sayangku?"
Tapi toh, setali tiga uang dengan Senja, Gerimis pun juga punya waktunya sendiri. Waktu untuk melepaskan dirinya dari Kita. Waktu untuk kembali kepada Sang Khalik yang telah meluncurkannya ke Bumi.
Namun, bagaimanapun, ketika ada yang pergi akan selalu ada yang datang. : )
Ketika Senja dengan ikhlas memudarkan dirinya demi melahirkan Malam, ia telah dengan sangat perhatian memberikan alam Manusia sebuah bahu untuk bersandar dari lelahnya di waktu siang. Malam memberikan payungnya ketika sebagian alam manusia ingin berteduh dari kepenatan dunia. Pun, Malam adalah jalan nafkah bagi mereka yang ketika Pagi sibuk dengan dunia lainnya.
Demikian juga dengan Gerimis. Suatu hari ia harus berhenti menghujam dan membiarkan genangan air, tanah tanah becek, dan busur Pelangi mewujudkan dirinya. Membuka selambu mendungnya untuk membiarkan cercah cercah Matahari melinangi dunia. Ketika itu terjadi, bukankah dedaunan Mapple akan orange kembali? Dan, bukankah itu juga pertanda bahwa Pagi akan menuntaskan doaku untuk sekedar melihat Senyumanmu?
Ah, kalau sudah begitu? Dimana letak akan merasa kehilangannya? : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar